Puluhan bhikkhu memulai perjalanan spiritual dengan berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur, Jawa Tengah, dalam rangkaian Indonesia Walk for Peace 2026 untuk menyambut Hari Raya Waisak.
Para bhikkhu dilepas langsung oleh Wakil Menteri Agama H.R. Muhammad Syafi'i didampingi Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, serta Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna di Brahma Vihara Arama, Kecamatan Banjar, Sabtu (9/5/2026).
Perjalanan tersebut menempuh jarak sekitar 500 kilometer dengan target tiba di Candi Borobudur pada 28 atau 29 Mei 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua panitia Thosin mengatakan sekitar 50 bhikkhu dari berbagai negara mengikuti kegiatan tersebut. Mayoritas peserta berasal dari Thailand, disusul Malaysia dan sejumlah negara lainnya.
"Sejak 7 Mei mereka sudah tiba di Bali. Kemudian 8 Mei dilakukan pemeriksaan kesehatan dan riwayat medis. Pemeriksaan ini tidak hanya di Bali, tetapi juga berlanjut di Surabaya hingga Jawa Tengah," ujar Thosin.
Menurutnya, kesiapan fisik menjadi syarat utama mengingat panjangnya perjalanan yang harus ditempuh para peserta.
"Perjalanan cukup jauh, kami siapkan mobil pendingin agar para bhikkhu tidak kepanasan. Sejauh ini tidak ada catatan kesehatan yang mengkhawatirkan," katanya.
Panitia juga menyiapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk kendaraan dan fasilitas penunjang untuk mengantisipasi cuaca ekstrem selama perjalanan berlangsung.
Sebagian besar peserta disebut merupakan wajah baru dalam kegiatan tersebut. Bahkan, beberapa di antaranya tidak menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari.
Bali Dipilih Jadi Titik Awal
Thosin menjelaskan Bali dipilih sebagai titik awal perjalanan karena dinilai menjadi simbol keberagaman dan toleransi di Indonesia.
"Bali dikenal dengan kemajemukan dan kebersamaan. Meski umat Buddha tidak dominan, dukungan masyarakat, lintas agama, hingga pemerintah sangat luar biasa," jelas Thosin.
Selama perjalanan, para bhikkhu dijadwalkan berjalan sejauh 30 hingga 40 kilometer per hari. Mereka hanya membawa perlengkapan sederhana seperti jubah dan mangkuk (bowl) sebagai bagian dari praktik hidup sederhana seorang bhikkhu.
"Pesan dari jalan damai ini adalah setiap langkah yang kita lakukan bisa membawa kedamaian, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga keluarga, bangsa, hingga dunia," imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Agama H.R. Muhammad Syafi'i mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai wujud nyata praktik toleransi yang telah mengakar di Indonesia.
"Ini menunjukkan ajaran agama di Indonesia sejak dulu menekankan pengendalian diri dan menebar kedamaian. Pemerintah hadir untuk memastikan nilai toleransi ini tetap terjaga," ujarnya.
Menurut Syafi'i, dukungan lintas agama dan pemerintah daerah dalam kegiatan tersebut menjadi bukti semangat persaudaraan dan harmoni terus hidup di tengah masyarakat Indonesia.
(dpw/dpw)










































