detikBali

Pemkab Klungkung Pelajari Sentra Tenun hingga Wisata Hits di Yogyakarta

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pemkab Klungkung Pelajari Sentra Tenun hingga Wisata Hits di Yogyakarta


Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra di Sentra Tenun Desa Wisata Gamplong, Sleman, Yogyakarta, Jumat (22/5/2026) lalu. (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Foto: Wabup Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra di Sentra Tenun Desa Wisata Gamplong, Sleman, Yogyakarta, Jumat (22/5/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung mengamati strategi pengembangan sentra tenun tradisional dan tata kelola destinasi wisata nusantara di Yogyakarta guna mendongkrak perekonomian daerah. Langkah ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra (Tjok Surya), lewat rangkaian kunjungan kerja intensif ke Desa Wisata Kerajinan Tenun Gamplong Sleman dan destinasi hits Obelix Hills Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Agenda tersebut menyasar dua sektor unggulan Klungkung, yakni kebangkitan industri kain tenun lokal dan modernisasi kawasan wisata buatan berbasis alam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengembangkan Potensi Kerajinan dan UMKM Klungkung

Kunjungan kerja diawali pada Jumat (22/5/2026), saat Wabup Tjok Surya didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Klungkung Anak Agung Gede Lesmana dan Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Klungkung Tjokorda Gde Romy Tanaya, menyambangi Desa Wisata Kerajinan Tenun Gamplong di Kabupaten Sleman.

ADVERTISEMENT

Rombongan Pemkab Klungkung disambut hangat oleh Ketua Sentra Kerajinan Tenun Gamplong, Giyono. Di lokasi ini, Tjok Surya melihat langsung kegigihan para perajin lokal-yang mayoritas adalah lansia-dalam memintal benang hingga menenun kain menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Ketua Sentra, Giyono, memaparkan industri Tenun Gamplong memiliki sejarah panjang sejak tahun 1930. Menariknya, kerajinan ini lahir dari kreativitas mengolah limbah kain perca dari konveksi yang dipotong memanjang dan ditenun kembali.

"Saat ini produk kami tidak lagi hanya menjadi keset, melainkan sudah berkembang menjadi produk interior rumah (home decor), tas, tirai, hingga taplak meja berestetika tinggi. Produk ini bahkan sukses menembus pasar ekspor Eropa, Amerika Serikat, hingga Jepang sejak akhir era 90-an," jelas Giyono.

Melihat hal tersebut, Wabup Tjok Surya langsung menyoroti kemiripan potensi besar yang dimiliki Klungkung. Ia menilai, Klungkung yang kaya akan warisan Tenun Ikat Endek dan Songket harus mampu mereplikasi strategi ini.

"Klungkung punya endek dan songket yang sangat terkenal. Dari hasil kunjungan ini, saya minta segera diimplementasikan untuk menggeliatkan kembali sentra-sentra tenun kita di Klungkung. Tujuannya jelas, meningkatkan kesejahteraan perajin sekaligus mendongkrak daya tarik pariwisata daerah," tegas Tjok Surya.

Ia juga menaruh harapan besar pada regenerasi perajin di Klungkung. Salah satu yang ia soroti di Gamplong adalah tidak adanya penenun muda yang terlibat. Menurutnya, hal itu menjadi tantangan yang dihadapi juga di Klungkung.

"Ke depannya, peran generasi muda untuk mengembangkan potensi kerajinan tradisional ini harus dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya," imbuhnya.

Selain itu, ia juga menekankan bagaimana desa wisata sentra tenun di Gamplong mampu meningkatkan daya tarik wisatawan Nusantara. Hal ini penting bagi Klungkung yang masih minim didatangi wisatawan dari dalam negeri.

Berburu Formula Wisata Hits Nusantara di Obelix Hills

Keesokan harinya, Sabtu (23/5/2026), rombongan Pemkab Klungkung melanjutkan perjalanan ke salah satu destinasi wisata paling hype di Yogyakarta, yakni Obelix Hills. Kunjungan ini difokuskan pada manajemen pengelolaan wisata modern yang memadukan keindahan alam dengan sentuhan kreativitas visual.

Disambut oleh manajemen pengelola Obelix Hills, Wabup Tjok Surya berkeliling langsung menikmati lanskap perbukitan yang terkenal dengan pemandangan matahari terbenam (sunset) ikonis dan deretan spot foto ramah media sosial (Instagramable).

Tjok Surya mengungkapkan lanskap perbukitan di Obelix memiliki kesamaan esensi dengan potensi alam yang dimiliki Klungkung, khususnya di daratan dan kepulauan Nusa Penida. Namun, pengelolaan fasilitas modern dan kenyamanan wisatawan di Obelix dinilai menjadi kunci utama yang patut dicontoh.

"Kita memiliki potensi alam yang luar biasa indahnya di Nusa Penida dan Klungkung daratan. Melalui kunjungan ke Obelix ini, kita belajar bagaimana memadukan keindahan alam asli dengan fasilitas modern yang nyaman, spot foto kreatif, serta manajemen pertunjukan visual yang apik. Ini referensi berharga untuk Klungkung," kata Tjok Surya.

Komitmen Genjot PAD dan Buka Lapangan Kerja Baru

Wabup Tjok Surya menegaskan Pemkab Klungkung berkomitmen penuh mendorong para pelaku industri kreatif dan pariwisata di Klungkung agar keluar dari zona nyaman dan tampil lebih inovatif.

Inovasi-inovasi segar dari Yogyakarta ini ditargetkan mampu menciptakan destinasi wisata ramah keluarga (family-friendly) yang digemari generasi milenial, sekaligus menjadi strategi jitu untuk memperlama durasi tinggal (length of stay) wisatawan asing maupun domestik di Nusa Penida.

"Langkah ini tidak hanya sekadar studi banding, tetapi harus membawa dampak nyata. Kita ingin mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Klungkung dan secara bersamaan membuka lapangan kerja baru seluas-luasnya bagi masyarakat lokal melalui sektor pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan," pungkasnya.




(hsa/hsa)











Hide Ads