detikBali

Dulu Kagumi Paskibraka dari Layar TV, Made Dwi Kini Bersiap Menuju Istana

Terpopuler Koleksi Pilihan

Dulu Kagumi Paskibraka dari Layar TV, Made Dwi Kini Bersiap Menuju Istana


Agus Eka Purna Negara - detikBali

Paskibraka putra asal Badung, Bali, I Made Dwi Sathya Kurniawan.
Paskibraka putra asal Badung, Bali, I Made Dwi Sathya Kurniawan. (Foto: Dok. Istimewa)
Badung -

Suara komando yang tegas, langkah yang seragam, serta bendera Merah Putih yang perlahan berkibar di langit Istana Negara selalu menjadi pemandangan yang ditunggu I Made Dwi Sathya Kurniawan setiap peringatan HUT RI.

Saat masih duduk di bangku SMP, remaja asal Sempidi, Badung, itu kerap terpaku di depan televisi menyaksikan penampilan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Dari layar kaca itulah sebuah mimpi tumbuh. Kini, mimpi tersebut selangkah lagi menjadi kenyataan.

Made Dwi berhasil lolos sebagai calon Paskibraka Nasional yang akan bertugas pada HUT ke-81 RI di Istana Negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tertarik Paskibraka. Saya mengagumi sejak SMP melihat anggota Paskibraka yang mengibarkan bendera merah putih ditayangkan di TV. Membawa nama Bali ke Istana Negara, tentunya kebanggaan saya," kata Made Dwi saat diwawancarai detikBali, Rabu (24/6/2026).

ADVERTISEMENT

Bagi siswa kelas 1 SMAN 1 Kuta Utara itu, pencapaian tersebut bukanlah hasil yang datang secara instan. Perjalanannya dimulai dari seleksi di tingkat sekolah, kemudian berlanjut ke tingkat Kabupaten Badung, Provinsi Bali, hingga akhirnya mengikuti seleksi nasional di Jakarta.

Ketika pengumuman resmi dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) keluar, pikirannya langsung melayang pada momen pertama kali dirinya dipercaya mewakili sekolah untuk mengikuti seleksi.

"Ketika nama saya diumumkan oleh BPIP, memori yang langsung terlintas di pikiran saya, momen saat pertama kali saya dipilih di sekolah ikut seleksi. Saya langsung sampaikan orang tua, mereka bangga," ujar Dwi Sathya.

Dukungan Orang Tua

Kabar kelolosan itu disambut haru oleh kedua orang tuanya, I Putu Suryawan dan Ni Wayan Risnawati. Bagi Made Dwi, dukungan keluarga menjadi salah satu alasan utama dirinya mampu bertahan hingga tahap akhir seleksi.

Di balik senyum bangga tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Made Dwi mengaku sempat dilanda rasa minder saat harus bersaing dengan banyak peserta terbaik dari berbagai daerah.

Namun, keraguan itu perlahan berubah menjadi keyakinan.

"Respons keluarga tentu bangga, terharu anaknya lolos wakili Bali di tingkat pusat. Mereka dari awal mendukung dan pantas mendapat hasil kerja keras saya selama ini. Saya awalnya minder, insecure tapi mengingat lagi, saya di Bali terpilih dari banyaknya pendaftar, harus yakin bahwa saya berhak, layak berdiri di Istana Negara," ucap pemuda yang hobi lari dan voli tersebut.

Selama menjalani karantina dengan sistem semi-militer dan disiplin tinggi di Jakarta, tantangan lain juga muncul. Rasa jenuh dan rindu rumah sempat menghampirinya.

Di saat seperti itu, doa dan dukungan keluarga menjadi penguat. Orang tuanya juga selalu memperhatikan kebutuhan nutrisi, vitamin, hingga asupan makanan agar kondisi fisiknya tetap terjaga.

"Saya pernah jenuh, rindu rumah saat karantina. Diingat lagi, oh orang tua saya ada, selalu berdoa untuk saya dan teman-teman yang selalu menyemangati saya, ya harus semangat dan tenang. Peran orang tua apalagi perhatian nutrisi, suplai makanan 4 sehat 5 sempurna," tutur peraih juara 2 lomba LKBB internal dan predikat komandan peleton (danton) terbaik ini.

Pegang Teguh Mulat Sarira

Selain dukungan keluarga, Made Dwi juga berpegang pada nilai-nilai kearifan lokal Bali yang ditanamkan sejak kecil. Remaja yang gemar bermain layangan tradisional Bali itu mengaku selalu mengingat prinsip Mulat Sarira sebagai pegangan selama menjalani proses seleksi.

Nilai tersebut membuatnya terus melakukan introspeksi diri dan tetap disiplin dalam setiap tahapan yang dijalani.

"Wejangan khusus bermuatan lokal pastinya, selalu Mulat Sarira, introspeksi diri, mengevaluasi tindakan, sadari kekurangan diri dan disiplin. Saya menikmati prosesnya karena jadi Paskibraka tentunya ada waktu yang harus dikorbankan, waktu muda ini normal bagi saya," jelasnya.

Pengorbanan waktu bermain bersama teman sebaya tidak pernah ia sesali. Baginya, setiap proses yang dijalani merupakan bagian dari perjalanan untuk meraih cita-cita yang lebih besar.

Bidik Pasukan 8 di Istana

Kini, setelah berhasil menginjakkan kaki di level nasional, Made Dwi sudah memiliki target tersendiri untuk penempatan saat upacara kemerdekaan nanti.

Ia berharap dapat menempati Pasukan 8 sebagai pembentang bendera atau menjadi Komandan Kelompok 17, dua posisi yang menurutnya sangat membanggakan.

"Jika saya boleh memilih untuk diposisikan di formasi mana, maka posisi yang saya pilih adalah Pasukan 8 sebagai pembentang bendera atau sebagai Komandan Kelompok 17. Itu posisi membanggakan. Mimpi besar yang ingin saya kejar berikutnya yaitu menjadi seorang praja di IPDN," pungkas Made Dwi.

Seperti diketahui, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menetapkan 76 anggota Paskibraka tingkat nasional yang akan mewakili seluruh provinsi di Indonesia.

Bali diwakili dua putra-putri terbaiknya, yakni I Made Dwi Sathya Kurniawan dan Ni Komang Gayatri Dinda Gita Arsani.

Made Dwi merupakan putra asal Badung yang lahir pada 8 Januari 2010 dan saat ini duduk di kelas 1 SMAN 1 Kuta Utara.

Sementara itu, Komang Gayatri merupakan putri asal Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Karangasem. Ia lahir pada 21 September 2009 dan saat ini bersekolah di SMAN 1 Kubu, Karangasem.




(dpw/dpw)










Hide Ads