Otoritas Iran dilaporkan telah menutup kembali Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026) waktu setempat. Penutupan dilakukan menyusul serangan militer Israel di Lebanon terhadap kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Penutupan itu dilaporkan media pemerintah Iran, Fars.
Namun, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan laporan tersebut "palsu." Hal itu diungkapkan Leavitt ketika ditanya tentang laporan penutupan Selat Hormuz dari kantor berita Fars.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Presiden telah mengetahui laporan tersebut sebelum saya naik ke podium, itu sama sekali tidak dapat diterima dan sekali lagi, ini adalah kasus di mana apa yang mereka katakan secara publik berbeda dengan apa yang mereka katakan secara pribadi," kata Leavitt kepada wartawan.
"Kita telah melihat peningkatan lalu lintas di selat hari ini," imbuhnya. Leavitt mengatakan Lebanon bukan bagian dari gencatan senjata AS-Iran.
Sementara itu, dua kapal tanker berhasil melewati Selat Hormuz. Hal itu berdasarkan MarineTraffic, sebuah layanan pelacakan kapal.
Kapal milik Yunani, NJ Earth, dan kapal berbendera Liberia, Daytona Beach, berhasil melewati selat tersebut, kapal pertama yang melintasi jalur air strategis tersebut sejak gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran, setelah ia memperingatkan akan memerintahkan serangan dahsyat terhadap Teheran, jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz.
"Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih -- gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya," tulis Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada hari Rabu di platform media sosial X.
"Dunia melihat pembantaian di Lebanon," kata Araghchi. "Bola ada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya," cetusnya.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!
(iws/iws)

