Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Bali menegaskan kegiatan belajar mengajar siswa SD hingga SMA tetap dilakukan secara tatap muka di tengah efisiensi energi. Kebijakan ini diambil karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) dinilai menyulitkan siswa dalam memahami materi.
Kepala Disdikpora Bali Ida Bagus Wesnawa mengatakan pembelajaran tatap muka masih menjadi pilihan utama dibandingkan PJJ seperti yang diterapkan di perguruan tinggi.
"Masih kita pakai luring, tetap ke sekolah," ungkap Wesnawa saat ditemui detikBali, Jumat (10/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wesnawa menilai, pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan PJJ tidak berjalan optimal, terutama bagi siswa SD dan SMP.
"Kalau dibuat begitu, kasihan juga. Agak susah, terutama dalam memahami materi," ungjarnya.
Menurutnya, dampak kesulitan memahami materi saat PJJ masih terasa hingga kini. Hal itu tercermin dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menunjukkan pemahaman siswa belum merata.
"Kalau kita lihat dari kemampuan TKA, kondisi di lapangan tidak seperti yang diharapkan. Tidak bisa digeneralisasi semua siswa siap," kata Wesnawa.
Wesnawa menegaskan, Disdikpora Bali mendukung kebijakan pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang mengatur pembelajaran siswa tetap dilakukan secara tatap muka.
"Kami setuju sekali dengan edaran pusat, siswa tetap belajar secara luring," tandasnya.
(dpw/dpw)










































