detikBali

Kreator Korsel Kritik Sampah Bali: Warga Sudah Berusaha, Sistem Belum Beres

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kreator Korsel Kritik Sampah Bali: Warga Sudah Berusaha, Sistem Belum Beres


Syanti Mustika - detikBali

Petugas mengangkut tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Yang Batu, Denpasar, Bali, Selasa (17/10/2023). (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)
Ilustrasi pengelolaan sampah di Bali. (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)
Denpasar -

Kreator konten asal Korea Selatan (Korsel), Shindong Lee, mengkritik pengelolaan sampah yang belum tertangani secara optimal di Bali. Ia sendiri sudah menetap dan tinggal di Pulau Dewata setelah menikah dengan pria Indonesia.

"Saya sudah tinggal di Bali sekitar satu tahun. Saya dan suami beberapa kali datang ke Bali untuk liburan, dan setiap kali datang saya selalu jatuh cinta dengan alam, budaya, dan suasananya. Akhirnya, setelah menikah di Bali, saya memutuskan memulai kehidupan pernikahan saya di sini bersama suami saya yang orang Indonesia," kata Shindong, Minggu (12/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir detikTravel, menurut Shindong, masyarakat lokal sebenarnya telah berupaya menjaga kebersihan lingkungan. Namun, upaya tersebut dinilai belum diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah yang memadai, sehingga persoalan terus berulang.

Kondisi itu kian terasa setelah kebijakan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung tidak lagi menerima sampah organik sejak 1 April 2026. Kebijakan tersebut bertujuan mendorong pengolahan sampah berbasis sumber, sehingga TPA hanya menampung sampah anorganik dan residu.

ADVERTISEMENT

Perubahan sistem ini membuat pengelolaan sampah bergeser ke tingkat rumah tangga dan desa. Sampah organik kini harus dipilah dan diolah dari sumbernya. Namun, proses transisi dinilai belum berjalan optimal karena keterbatasan infrastruktur dan kesiapan sistem di lapangan.

Shindong membagikan keresahannya melalui video di Instagram soal sampah dengan keterangan: Menurut kalian sampah di Bali solusinya seperti apa ya?

Dalam percakapan dengan detikTravel, ia mengaku heran melihat tumpukan sampah di tepi jalan. Ia juga menyoroti praktik pengangkutan sampah yang dinilai tidak konsisten, seperti sampah yang sudah dipilah warga tetapi kembali dicampur oleh petugas.

"Saya beberapa kali melihat warga membersihkan saluran air sendiri atau menjadi relawan untuk membersihkan sampah. Karena itu saya merasa semakin sedih. Menurut saya, warga sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi kalau sistem pengangkutan sampah dan pengurangan penggunaan barang sekali pakai tidak ikut diperbaiki, masalah ini akan sulit diselesaikan," jelasnya.

Pengelolaan Sampah di Korea Selatan Ketat

Shindong juga membandingkan pengelolaan sampah di Bali dengan Korea Selatan. Dia mengatakan bahwa pemerintah Korsel tak main-main dalam urusan mengelola sampah. Korsel mewajibkan setiap warga memilah sampah sesuai aturan dan berfokus kepada sampah daur ulang.

"Di Korea, fokusnya sangat besar pada daur ulang. Karena itu, sampah dipisahkan dengan sangat detail. Misalnya, ketika membuang satu botol plastik, label, tutup botol, dan botol plastiknya harus dipisahkan satu per satu. Botolnya juga harus dikosongkan dan tidak boleh ada sisa kotoran di dalamnya," kata dia.

Botol plastik dan botol kaca juga bisa dikumpulkan lalu dibawa ke tempat daur ulang. Kadang kala, warga bisa menukar sampah-sampah itu dengan uang atau poin.

Di depan kantor kelurahan atau fasilitas umum, ada mesin yang menerima botol plastik dan kaleng lalu memberikan poin. Katanya, sistem seperti ini membuat orang lebih aktif untuk mendaur ulang.

Shindong juga mengatakan pengelolaan sampah sangat disiplin per wilayah. Pembuangan furnitur berukuran besar juga diatur secara ketat.

"Di Korea, kami harus membeli kantong sampah resmi sesuai daerah tempat tinggal. Kalau memakai kantong dari daerah lain, sampahnya sering kali tidak akan diambil. Jadi harga kantong itu bisa dibilang adalah biaya pembuangan sampah. Selain itu, sampah makanan harus dibuang dengan kantong khusus atau tempat khusus," kata dia.

Untuk membuang barang besar seperti tempat tidur, lemari, atau meja, warga Korea Selatan harus membeli stiker khusus dari kantor pemerintah daerah. Sampah dari renovasi rumah juga harus dibuang secara terpisah dengan biaya tambahan. Jadi di Korea, biaya pembuangan sampah dibayar sesuai jenis dan jumlah sampah.

Saran untuk Pemerintah untuk Sampah di Bali

Shindong menilai Bali juga harus mulai menerapkan memilah dan mendaur ulang sampah, terutama resor dan hotel. Apalagi, Bali selalu kedatangan banyak wisatawan sepanjang tahun. Dia berpendapat peran penginapan untuk aktif mengelola sampah sangat penting.

Selain itu, Bali juga membutuhkan standar yang sama untuk pengelolaan sampah di seluruh wilayah.

"Daripada sampah ditumpuk lama di depan rumah, menurut saya akan lebih baik kalau di setiap daerah ada tempat pembuangan bersama, sehingga warga bisa langsung memilah dan membuang sampah sendiri. Dengan begitu, masalah membakar sampah atau menumpuk sampah terlalu lama di depan rumah juga bisa berkurang," ujar dia.

Baca selengkapnya di detikTravel




(nor/nor)











Hide Ads