detikBali

Viral Siswa SMA di Purwakarta Acungkan Jari Tengah ke Guru

Terpopuler Koleksi Pilihan

Viral Siswa SMA di Purwakarta Acungkan Jari Tengah ke Guru


Bima Bagaskara - detikBali

Video viral siswa SMA di Purwakarta acungkan jari tengah kepada guru
Video viral siswa SMA di Purwakarta acungkan jari tengah kepada guru. Foto: Istimewa
Denpasar -

Aksi tidak pantas sejumlah siswa terhadap seorang guru di ruang kelas viral di media sosial dan menuai kecaman. Dalam video yang beredar, siswa terlihat mengejek hingga menunjukkan gestur jari tengah kepada guru di dalam ruang kelas.

Dilansir detikJabar, dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa tersebut diketahui terjadi di SMAN 1 Purwakarta. Tindakan para siswa dinilai mencerminkan krisis etika serta menurunnya penghormatan terhadap guru di lingkungan sekolah.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung merespons kejadian tersebut. Ia mengaku prihatin dan telah menerima laporan lengkap dari Dinas Pendidikan terkait kronologi insiden itu.

ADVERTISEMENT

"Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologinya saya sudah mendengarkan paparan dari Dinas Pendidikan," kata Dedi dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026).

Dedi menuturkan, orang tua dari para siswa telah dipanggil ke sekolah. Pihak sekolah sendiri telah mengambil langkah awal dengan menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada siswa yang terlibat. Selama masa tersebut, siswa diminta menjalani pembinaan di rumah.

"Berdasarkan informasi anak tersebut orang tuanya sudah dipanggil ke sekolah dan orang tuanya nangis merasa menyesal atas tindakan anaknya," ujar Dedi.

"Selanjutnya sekolah sudah memberikan skorsing selama 19 hari, anak itu mendapat bimbingan di rumah," lanjut dia.

Namun, Dedi menilai sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Ia justru mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku.

"Tapi saya memberikan saran anak itu tidak skorsing selama 19 hari, ini saran mudah-mudahan bisa digunakan. Tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet," tegasnya.

Menurut Dedi, hukuman berbasis aktivitas sosial dan tanggung jawab justru lebih efektif dalam menanamkan nilai disiplin dan rasa hormat. Ia bahkan menyarankan durasi pembinaan bisa diperpanjang, tergantung perkembangan siswa.

"Ini yang saya sarankan, waktunya bisa 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan tergantung perkembangan anak itu sendiri," ujarnya.

Dedi menekankan, setiap bentuk hukuman dalam dunia pendidikan harus memiliki tujuan utama, yakni membentuk karakter, bukan sekadar memberi efek jera.

"Prinsip dasar setiap hukuman yang diberikan harus memberikan manfaat dalam pembentukan karakter bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan gurunya," pungkasnya.

Baca selengkapnya di detikJabar




(nor/nor)










Hide Ads