detikBali

Lihainya Perempuan dan Penyandang Tuli Berselancar Pakai Kebaya di Pantai Kuta

Terpopuler Koleksi Pilihan

Lihainya Perempuan dan Penyandang Tuli Berselancar Pakai Kebaya di Pantai Kuta


Fabiola Dianira - detikBali

Sejumlah perempuan mengenakan kebaya sembari berselancar saat peringatan Hari Kartini di Pantai Kuta, Bali, Minggu (19/4/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Sejumlah perempuan mengenakan kebaya sembari berselancar saat peringatan Hari Kartini di Pantai Kuta, Bali, Minggu (19/4/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Badung -

Puluhan perempuan tampak lihai mengarungi ombak di atas papan selancar di Pantai Kuta, Badung, Bali. Menariknya, para perempuan itu berselancar mengenakan kain serta kebaya tradisional.

Kegiatan bertajuk Kartini Go Surf ini juga diikuti oleh komunitas tunarungu untuk memperingati Hari Kartini. Acara serupa telah digelar sejak 2010.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang surfing pakai bikini sudah biasa, pakai boardshort juga sudah biasa. Kita bangsa Indonesia harus bangga dengan Kartini kita," ujar Penggagas Kartini Go Surf, Bagus Made Irawan alias Piping, di Pantai Kuta, Minggu (19/4/2026).

Piping menjelaskan kegiatan ini juga sebagai bentuk penghormatan terhadap kaum perempuan. "Kita nggak pernah ada di sini tanpa Kartini kita. Ibu saya adalah Kartini. Jadi, ini adalah perwujudan terima kasih saya kepada ibu saya sebenarnya dan kalian-kalian semualah," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Kegiatan ini turut diramaikan oleh Yayasan Corti yang mendampingi penyandang tuli. Sebanyak enam perempuan dari komunitas ini turut berselancar dengan didampingi pelatih yang menguasai bahasa isyarat.

Sejumlah perempuan mengenakan kebaya berselancar mengarungi ombak saat peringatan Hari Kartini di Pantai Kuta, Bali, Minggu (19/4/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)Sejumlah perempuan mengenakan kebaya berselancar mengarungi ombak saat peringatan Hari Kartini di Pantai Kuta, Bali, Minggu (19/4/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)

Ketua Yayasan Corti, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari, mengatakan ini merupakan kali ketiga yayasannya berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia menilai keikutsertaan peselancar putri tuli bersama peselancar perempuan lainnya adalah bentuk nyata dari gerakan inklusi dan emansipasi.

"Kita sedang mendobrak batas ganda, stigma tentang keterbatasan fisik dan batasan tentang apa yang mampu dilakukan oleh seorang perempuan. Hari ini kita menegaskan kembali nilai-nilai Kartini. Kesetaraan adalah akses, kesempatan adalah prestasi, bukan belas kasihan," ujar Mirah dalam sambutannya.

Intan, salah satu peserta tunarungu yang berpartisipasi dalam kegiatan itu telah belajar berselancar sejak 2023. Perempuan berusia 21 tahun itu mengaku senang bisa mengikuti ajang selancar Kartini Go Surf.

"Jadi meskipun tadi memakai kebaya itu bukan tantangan. Nggak ada masalah," ujar Intan melalui penerjemah bahasa isyarat.




(iws/iws)










Hide Ads