detikBali

Ogoh-ogoh Unik dari Kulit Buah Salak Karya Siswa SMK di Klungkung

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ogoh-ogoh Unik dari Kulit Buah Salak Karya Siswa SMK di Klungkung


Sui Suadnyana, Fatih Kudus Jaelani - detikBali

I Komang Agus Sudiarsa (15), siswa SMKN 1 Klungkung bersama karya ogoh-ogoh mininya, Kamis (30/4/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Foto: I Komang Agus Sudiarsa (15), siswa SMKN 1 Klungkung bersama karya ogoh-ogoh mininya, Kamis (30/4/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

I Komang Agus Sudiarsa (15), siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMKN) 1 Klungkung menampilkan karya unik dalam pameran dan lomba ogoh-ogoh mini di Festival Semarapura 8 di Klungkung, Bali, Kamis (30/4/2024). Pelajar dari Desa Kamasan itu menggunakan kulit buah salak untuk membuat payasan (hiasan) atau aksesori ogoh-ogoh mininya.

Ogoh-ogoh bertajuk Bhagawan Samirana itu dibuat selama 1,5 bulan. Sebagian besar bahannya menggunakan barang bekas pakai, mulai dari potongan bambu untuk kerangka, kertas dan koran bekas untuk tubuh, kardus, plastik, dan barang bekas lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Inspirasi menggunakan kulit salak sebagai payasan muncul begitu saja saat Agus tengah merangkai bagian akhir dari ogoh-ogohnya.

"Saya lihat cukup unik saja. Waktu itu sedang makan salak, terus waktu mau membuang kulitnya, saya jadi ingin mencoba untuk memasangnya sebagai payasan. Ternyata jadi keliatan bagus," terang Agus kepada detikBali Kamis (30/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ini kali pertama Agus membuat ogoh-ogoh dan juga ikut lomba. Biaya yang dihabiskan sekitar Rp 250 ribu dan waktu pengerjaannya selama 1,5 bulan.

Uang yang digunakan lebih banyak habis untuk membeli tanah liat dan lem. Selebihnya, Agus memanfaatkan semua barang bekas. Kerangka ogoh-ogoh juga tak menggunakan kawat, melainkan kayu dan bambu bekas.

Filosofi

Siswa kelas X jurusan desain komunikasi visual ini menjelaskan soal filosofi ogoh-ogoh Bhagawan Samirana buatannya. Agus mendapatkan inspirasi pembuatan boneka khas Bali itu melalui media sosial (medsos).

"Dari sejumlah referensi yang saya dapatkan di media sosial, saya memilih tema Bhagawan Samirana ini," terang Agus.

Bhagawan Samirana, ujar Agus, merupakan sosok dewa yang mengawasi aktivitas manusia, baik maupun buruk. Agus memilih membuat karya Bhagawan Samirana karena filosofinya dekat dengan kehidupan manusia.

Agus berharap mendapat juara dalam lomba ogoh-ogoh mini Festival Semarapura kali ini. Namun, jika tak dapat, Agus sudah cukup puas dengan hasil karyanya. Apalagi selama 1,5 bulan ia telah meluangkan sangat banyak waktu untuk berkarya.

"Jadi main sosmed, scroll Instagram dan tiktok sangat saya kurangi. Pulang sekolah sore, langsung buat ini. Fokusnya benar-benar ke sana," terang Agus.

Ketua panitia pameran dan lomba ogoh-ogoh mini Festival Semarapura 2026, I Wayan Artana, menerangkan lomba diikuti puluhan pelajar dari total 118 peserta se-Provinsi Bali.

"Kegiatan ini diikuti oleh seluruh seniman dari beberapa kabupaten di Bali, mulai dari pelajar, mahasiswa, dan umum. Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat generasi muda untuk terus berkarya," terang Artana.




(dpw/dpw)











Hide Ads