Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali Ratna Hendratmoko menyebut kawasan konservasi kini dapat dijadikan spot pengembangan sport tourism. Hal itu disampaikan Moko usai menghadiri konferensi pers Bali Trail Run (BTR) Ultra 2026 di Bali International Hospital, Sanur, Denpasar, Sabtu (9/5/2026).
Diketahui, BTR Ultra 2026 akan digelar di kawasan konservasi Gunung Batur Bukit Payang, Kintamani, Bangli.
Menurut Moko, kawasan konservasi, hutan lindung, maupun hutan konservasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan gaya hidup masyarakat, termasuk olahraga berbasis alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ke depan saya kira kawasan-kawasan konservasi, hutan lindung maupun hutan konservasi ya memang harus mampu beradaptasi pengelolaannya dengan gaya-gaya hidup seperti ini," kata Moko.
Ia mengatakan regulasi yang ada juga akan disesuaikan dengan perkembangan aktivitas olahraga di kawasan konservasi. Meski demikian, Moko menegaskan pengembangan sport tourism bukan berarti mengomersialkan kawasan konservasi.
Menurutnya, taman wisata alam memang diperuntukkan agar memberi manfaat bagi masyarakat.
"Saya kira kawasan konservasi kemanfaatannya bukan hanya untuk sesuatu jargon konservasi perlindungan dan sebagainya, tapi untuk masyarakat," tuturnya.
Moko menilai masyarakat harus menjadi pihak yang mendapatkan manfaat sekaligus menjaga dan melestarikan kawasan konservasi. Ia menegaskan kawasan konservasi bukan hanya milik BKSDA, melainkan milik masyarakat.
"Dan bagaimana event ini mampu menginspirasi publik bagaimana event mampu memberikan dampak kepada publik bahwa kita menikmati alam, kita juga harus menghargai alam, bangga dengan kawasan konservasi," tandas Moko.
(dpw/dpw)










































