detikBali

Turis Asing Antusias Nobar Film 'Pesta Babi' di Kuta Selatan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Turis Asing Antusias Nobar Film 'Pesta Babi' di Kuta Selatan


Fabiola Dianira - detikBali

Suasana nobar film dokumenter Pesta Babi di Zando Fight Camp, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Bali, Kamis (14/5/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Suasana nobar film dokumenter 'Pesta Babi' di Zando Fight Camp, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Bali, Kamis (14/5/2026). (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Badung -

Sejumlah turis asing tampak antusias mengikuti acara nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita'. Pemutaran film dokumenter itu digelar di Zando Fight Camp, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Bali, malam ini.

Salah satu penonton asal Rusia, Julia, mengaku belum mengetahui tentang film dokumenter tersebut. Namun, ia telah mendengar adanya konflik dan persoalan yang terjadi di Papua. Setelah menonton film tersebut, ia menyoroti sistem kapitalisme yang dinilainya semakin tidak adil dan merugikan masyarakat Papua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini benar-benar cerita yang menyedihkan. Saya merasa dunia kapitalis sekarang semakin gila dan tidak mendukung rakyatnya sendiri. Apa yang terjadi terhadap masyarakat Papua seperti sebuah kejahatan," ujar Julia seusai pemutaran film, Kamis (14/5/2026) malam.

Pantauan detikBali, nobar 'Pesta Babi' di Zando Fight Camp Ungasan juga dirangkai dengan sesi diskusi. Sekitar 50 peserta hadir menyaksikan film dokumenter tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, masyarakat umum, hingga wisatawan mancanegara.

ADVERTISEMENT

Film dokumenter 'Pesta Babi' menyoroti hilangnya hutan di Papua lantaran dikonversi menjadi perkebunan industri dengan mengatasnamakan ketahanan pangan dan transisi energi. Film ini juga merekam perjuangan masyarakat Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.

"Masyarakat hidup di hutan dan mencari makanan dari sana. Hutan memberikan banyak hal penting bagi mereka. Apa yang dilakukan pemerintah terhadap hutan itu adalah sebuah kejahatan," kata Julia.

Julia juga merefleksikan persoalan dalam film tersebut dengan situasi serupa di negaranya. Menurut dia, wilayah Siberia di Rusia juga mengalami eksploitasi hutan dalam skala besar untuk kepentingan ekonomi semata.

"Di Rusia kami juga punya masalah yang sama dengan pemerintah. Di bagian utara Siberia, mereka melakukan hal serupa terhadap hutan, menebang lalu menjual kayunya ke China," imbuh Julia.

Hal senada disampaikan Janine, wisatawan asal Peru. Ia mengaku tertarik menonton 'Pesta Babi' karena sebelumnya telah mendengar isu mengenai Papua.

Menurut Janine, salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika alat berat menggusur kawasan hutan di Papua. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang bersatu dan peduli terhadap situasi tersebut demi mendorong perubahan yang lebih baik.

"Saat bulldozer menebangi semua pohon dan saya memikirkan orang-orang serta hewan-hewan di sana. Itu membuat saya sedih," kata Janine.

Sementara itu, penyelenggara acara sekaligus pemilik Zando Fight Camp, Belda Brig Sando, tidak menyangka acara tersebut akan mendapat antusiasme dari warga asing. Belda mengaku telah meminta izin kepada aparat setempat untuk menggelar pemutaran film tersebut.

"Nggak nyangka nih, antusias dari bule-bule juga banyak jadi ya baguslah, senang juga. Untung bisa tayang sampai selesai," ungkap Belda.

Belda menuturkan dirinya memiliki kenangan baik dan kedekatan emosional dengan masyarakat Papua. Ia juga sempat beberapa kali datang ke sana untuk keperluan liputan saat masih bekerja sebagai presenter televisi.

Menurutnya, pemutaran film 'Pesta Babi' tersebut juga bertujuan memperkenalkan realitas Papua kepada warga asing yang tinggal maupun berlibur di Bali. "Kebanyakan bule-bule ini hanya tahunya kan Indonesia itu Bali, Jawa. Jadi kan bagus juga buat mereka dapat pengetahuan gitu," ungkapnya.




(iws/iws)











Hide Ads