detikBali

Kesaksian WNI usai Ditahan Israel: Dipukul, Disetrum, hingga Diinjak

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kesaksian WNI usai Ditahan Israel: Dipukul, Disetrum, hingga Diinjak


Adrial Akbar - detikBali

WNI relawan Global Sumud Flotilla 2026 tiba di Bandara Soetta
Foto: WNI relawan Global Sumud Flotilla 2026 tiba di Bandara Soetta (Adrial/detik)
Jakarta -

Tangis Herman Budianto Sudarson pecah saat menceritakan dugaan penyiksaan yang dialami para relawan Global Sumud Flotilla 2026 selama ditahan Israel. Warga Negara Indonesia (WNI) yang baru tiba di Tanah Air itu menyebut ada relawan yang mengalami patah tulang, ditembak, hingga dugaan pelecehan seksual selama proses penahanan.

Momen itu terjadi saat konferensi pers ketibaan sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026). Herman membenarkan adanya dugaan kekerasan yang dialami para relawan saat ditahan.

"Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah ada sekitar 40 orang patah tangan patah kaki ya patah hidung ada yang ditembak dan seterusnya," kata Herman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Herman mengatakan ada pula dugaan pelecehan seksual yang dialami laki-laki maupun perempuan selama proses penahanan oleh tentara Israel. Menurutnya, para tahanan diperlakukan seperti hewan.

ADVERTISEMENT

"Bahkan banyak juga kasus-kasus pelecehan seksual yang diterima oleh baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut. Belum lagi hal-hal yang lain terkait dengan kondisi ketika kita ada di penjara dan seterusnya diperlakukan seperti hewan," ucapnya.

Di tengah kesaksiannya, Herman menegaskan pengalaman tersebut tidak membuat dirinya merasa paling berjasa untuk Palestina. Pada momen itu, ia tak kuasa menahan tangis.

"Ya tapi semua ini Insyaallah tidak menjadikan kami menjadi orang yang merasa paling berjasa hanya yang sangat kecil sekali yang kami lakukan untuk Palestina. Karena saudara kita yang di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan dengan kami," ujarnya sambil menangis.

Kesaksian serupa disampaikan relawan lain, Rahendro Heruwibowo. Ia mengaku sempat dipukul, diinjak, hingga disetrum. Menurut Rahendro, penyiksaan berhenti setelah dirinya berteriak.

"Saya dipukul kepala ya, sudah saya nggak tahu berapa kali ya. Terus badan depan, belakang, dan saya jatuh juga sempat diinjak. Terakhir saya disetrum sehingga akhirnya saya teriak cukup kencang, baru mereka akhirnya melepaskan," ucapnya.

Rahendro mengatakan dirinya sempat dibawa ke daratan oleh Israel. Di lokasi itu, menurutnya, telah disiapkan bilik-bilik yang diduga digunakan untuk penyiksaan.

"Seperti yang saya bilang, selama perjalanan dari satu tempat ke mana itu penuh treatment-treatment, penyiksaan yang kayak misalkan diborgol ini kenceng banget diborgolnya, terus sama dia dimainin gitu. Jalan, nunduk, jatuh, ditendang. Seperti itu kurang lebihnya," ucapnya.

Tiba di Tanah Air

Sebelumnya, sembilan relawan WNI itu berjalan keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, sekitar pukul 16.25 WIB. Mereka terlihat mengenakan keffiyeh atau syal khas Palestina.

Kerabat para WNI turut menyambut kedatangan mereka dengan spanduk dan bendera Palestina. Sorak sorai terdengar saat para relawan keluar dari gedung terminal.

Kronologi Penangkapan

Penangkapan sembilan WNI bermula saat pasukan Israel mencegat sejumlah kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) pada Senin (18/5). Sejumlah kapal GSF dicegat secara bertahap sehingga sejumlah relawan ditangkap.

Seluruh relawan GSF, termasuk sembilan WNI, kemudian dibebaskan pada Kamis (21/5) waktu setempat. Mereka tiba lebih dulu di Turki menggunakan pesawat yang disewa otoritas setempat.

Sejumlah WNI yang ditangkap melaporkan mendapat perlakuan tak manusiawi. Beberapa di antaranya mengaku mengalami kekerasan fisik seperti dipukul atau disetrum. Berikut daftar sembilan WNI yang sempat ditangkap tentara Israel berdasarkan laporan GPCI:

1. Herman Budianto Sudarson (GPCI-Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
2. Ronggo Wirasanu (GPCI-Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
3. Andi Angga Prasadewa (GPCI-Rumah Zakat) Kapal Josef
4. Asad Aras Muhammad (GPCI-Spirit of Aqso) Kapal Kasr-1
5. Hendro Prasetyo (GPCI-SMART 171) Kapal Kasr-1
6. ⁠Bambang Noroyono (Republika) Kapal BoraLize
7. ⁠Thoudy Badai Rifan Billah (Republika) Kapal Ozgurluk
8. ⁠Andre Prasetyo Nugroho (Tempo) Kapal Ozgurluk
9. Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI dan iNews) Kapal Ozgurluk.




(dpw/dpw)










Hide Ads