Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mendapatkan alokasi 5.000 dosis vaksin African Swine Fever (ASF) dari pemerintah pusat. Tambahan dosis vaksin ini sebagai upaya pencegahan penyebaran virus demam babi afrika pada ternak babi di Bali.
"ASF menjadi perhatian serius karena penularannya cukup cepat dan dapat menyebabkan kematian pada ternak babi. Karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan oleh seluruh peternak," ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, I Wayan Sunada, Sabtu (30/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ribuah vaksin tersebut akan digelontorkan pemerintah pusat pada Juni mendatang. Setelah itu, vaksin akan didistribusikan ke kabupaten/kota di Bali pada Juli.
"Pemerintah pusat saat ini sedang melakukan proses pengadaan vaksin ASF. Setelah distribusi dilakukan ke daerah, kami akan menyiapkan langkah teknis pelaksanaan vaksinasi sesuai sasaran yang telah ditetapkan," imbuhnya.
Sunada menerangkan vaksinasi ASF akan menyasar babi jantan dan indukan. Sedangkan, ternak babi penggemukan tidak menjadi prioritas karena pola pemeliharaannya relatif singkat sebelum dijual atau dipotong untuk konsumsi.
"Babi pejantan dan indukan menjadi prioritas karena memiliki nilai penting dalam keberlanjutan produksi dan pembibitan ternak babi," imbuhnya.
Selain itu, Pemprov Bali juga akan menerima vaksin Classical Swine Fever (CSF) sebanyak 20.360 dosis. CSF sendiri dikenal juga sebagai penyakit kolera babi yang mudah menular hingga dapat merugikan peternak babi.
Sunada menjelaskan penerapan biosecuriti pada peternakan babi penting dan efektif untuk menekan risiko penularan virus ASF. Menurutnya, biosekuriti bukan sekadar tentang kebersihan kandang. Melainkan juga terkait pengaturan keluar masuk area peternakan hingga penggunaan disinfektan secara rutin.
"Penerapan biosekuriti sangat efektif apabila dilakukan secara disiplin dan konsisten oleh peternak. Virus ASF dapat menyebar melalui berbagai media, sehingga perlindungan kandang harus dilakukan secara menyeluruh," terang Sunada.
Distan Pangan Bali mengimbau para peternak agar meningkatkan kewaspadaan ketika hewan ternak mulai menunjukkan gejala penyakit. Mulai dari demam, penurunan nafsu makan, tubuh lemas, perubahan warna kulit, hingga kematian mendadak.
"Terapkan biosekuriti secara konsisten dan segera laporkan apabila ada gejala penyakit atau kematian tidak normal pada ternak. Dengan kerja sama yang baik, kita berharap kesehatan ternak babi di Bali tetap aman dan produktivitas peternakan masyarakat dapat terus berjalan dengan baik," pungkasnya.
(iws/iws)










































