detikBali

Tak Pernah Masuk Sekolah, 1 Siswa SMP di Jembrana Dinyatakan Tidak Lulus

Terpopuler Koleksi Pilihan

Tak Pernah Masuk Sekolah, 1 Siswa SMP di Jembrana Dinyatakan Tidak Lulus


I Putu Adi Budiastrawan - detikBali

Ilustrasi murid SD, SMP, dan SMA
Foto: Ilustrasi siswa. (Dok. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah)
Jembrana -

Tingkat kelulusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Jembrana, Bali, tahun ajaran 2025/2026 gagal mencapai 100 persen. Dari total 3.586 siswa kelas IX yang mengikuti proses akhir pendidikan, sebanyak 3.585 siswa dinyatakan lulus atau mencapai persentase 99,97 persen.

Satu-satunya siswa yang dinyatakan tidak lulus tersebut berasal dari SMP Negeri 4 Mendoyo. Keputusan itu diambil berdasarkan hasil rapat dewan guru di sekolah setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, membenarkan informasi tersebut. Keputusan tidak meluluskan siswa itu diambil karena yang bersangkutan tidak mengikuti hampir seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran.

"Berdasarkan laporan, ada satu siswa di SMP Negeri 4 Mendoyo yang dinyatakan tidak lulus berdasarkan hasil rapat dewan guru. Pertimbangannya karena secara akademis siswa tersebut tidak menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran di sekolah," ungkap Anom saat dikonfirmasi detikBali, Rabu (3/6/2026).

ADVERTISEMENT

Anom menjelaskan siswa tersebut sama sekali tidak memiliki nilai pada seluruh mata pelajaran karena tidak pernah mengikuti proses pembelajaran. Pihak sekolah sejatinya telah memberikan alternatif pembelajaran dan penugasan secara daring, tapi tetap diabaikan.

Tak hanya itu, catatan kehadiran siswa tersebut juga jauh di bawah batas minimal. Dalam kurun waktu yang panjang, ia tercatat bolos sekolah hingga lebih dari 90 hari.

"Nilai semua mata pelajaran tidak ada sama sekali. Penugasan daring tidak dikerjakan. Kehadiran juga tidak memenuhi batas toleransi yang ditentukan. Kemudian ujian sumatif, Tes Kemampuan Akademik (TKA), dan seluruh rangkaian evaluasi untuk kelulusan juga tidak diikuti," papar Anom.

Karena sering membolos dan merasa minder akibat kemalasannya, siswa tersebut kemudian meminta pindah ke SMP Negeri 4 Mendoyo dari awalnya sekolah di SMP Negeri 2 Mendoyo. Namun setelah difasilitasi pindah sekolah, perilakunya tidak berubah.

"Kami beberapa kali mencari ke rumahnya, pihak sekolah juga berulang kali melakukan pendekatan, tetapi tidak pernah bertemu. Kami ingin memastikan juga apakah anak ini bekerja atau tidak karena ada informasi seperti itu," kata Anom.

Kepastian akhirnya didapat setelah tim Disdikpora kembali mendatangi rumahnya dan berhasil bertemu langsung dengan sang siswa beserta keluarganya. Siswa itu mengaku sempat bekerja serabutan membantu memasang dekorasi, tapi bukan pekerjaan tetap.

"Ketika kami datang lagi dan bertemu langsung, anaknya menyampaikan tidak berkeinginan melanjutkan pendidikan formal. Orang tuanya juga meminta agar difasilitasi ke pendidikan nonformal, baik melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)," tutur Anom.

Anom juga memastikan tidak ada unsur perundungan (bullying) yang membuat siswa tersebut enggan sekolah. Berdasarkan evaluasi, siswa tersebut murni malas mengikuti sekolah formal.

Meski tidak lulus, Disdikpora Jembrana berjanji akan tetap memfasilitasi siswa tersebut agar bisa mengenyam pendidikan lewat jalur nonformal atau Kejar Paket.

"Intinya siswa ini tidak diluluskan karena memang tidak mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran dan tidak memiliki nilai akademik yang menjadi syarat kelulusan. Namun kami tetap berupaya mencarikan solusi agar yang bersangkutan dapat melanjutkan pendidikan melalui jalur nonformal," pungkas Anom.




(hsa/hsa)










Hide Ads