detikBali

Pengamat Usul Bali Tiru Yogyakarta dalam Penghijauan Kota

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pengamat Usul Bali Tiru Yogyakarta dalam Penghijauan Kota


Fabiola Dianira - detikBali

Akademisi Universitas Udayana sekaligus pengamat pariwisata I Nyoman Sunarta. (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Akademisi Universitas Udayana sekaligus pengamat pariwisata I Nyoman Sunarta. (Foto: Fabiola Dianira/detikBali)
Denpasar -

Pengamat pariwisata I Nyoman Sunarta menyoroti berkurangnya lahan hijau di Bali. Sunarta menyebut masifnya pembangunan mengakibatkan kenaikan suhu di kawasan perkotaan seperti Denpasar.

Dosen Universitas Udayana (Unud) itu mengusulkan agar Bali meniru Yogyakarta dalam hal penataan dan penghijauan taman kota. Sunarta mencontohkan kawasan Malioboro di Yogyakarta yang banyak ditanami pohon asam sehingga menciptakan suasana kota yang lebih teduh dan nyaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Silakan lihat Jogja. Itu penghijauannya di kota itu pohon asam semua. Dia kembalikan ke, ke Belanda," ujar Sunarta saat ditemui seusai Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Bali Convention and Exhibition Bureau (Baliceb) Periode 2026-2031 di Denpasar, Bali, Jumat (5/6/2026).

Sunarta menilai penghijauan di kawasan kota perlu dilakukan dengan memilih jenis tanaman yang tepat seperti pohon asam atau celagi. Menurutnya, konsep tersebut sudah diterapkan sejak zaman kolonial Belanda.

ADVERTISEMENT

Pohon asam, dia berujar, dipilih karena memiliki banyak stomata yang efektif menyerap karbon dioksida. Selain itu, sistem perakarannya juga tidak mudah merusak infrastruktur di sekitarnya.

Dosen Fakultas Pariwisata Unud itu lantas membeberkan hasil penelitian yang dia lakukan pada 2018. Menurutnya, perubahan tutupan lahan menjadi beton dan bangunan menyebabkan panas matahari tersimpan lebih lama di kawasan perkotaan.

Akibatnya, suhu udara di kota menjadi lebih tinggi dibandingkan wilayah yang masih memiliki banyak ruang hijau. "Di kota temperaturnya sudah mulai meningkat tajam. Itu karena energi terperangkap di kota, nggak bisa ke mana-mana, sehingga kota menjadi semakin panas," imbuhnya.

Sunarta menegaskan penghijauan merupakan langkah yang relatif sederhana untuk menekan kenaikan suhu di perkotaan. Namun, dia berujar, vegetasi yang dipilih harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan lingkungan.

"Kalau ingin mengurangi peningkatan temperatur di kota, ya itu penghijauan. Itu kan revegetasi. Cuma vegetasi yang kita perlukan harus vegetasi yang pilih-pilih," imbuhnya.

Sunarta mengatakan penentuan jenis tanaman yang cocok sebaiknya melibatkan para ahli biologi dan lingkungan. Tujuannya agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara maksimal dalam jangka panjang.




(iws/iws)











Hide Ads