detikBali

3 Tahun Rusak Berat, 2 Jembatan di Tabanan Diperbaiki Tahun Ini

Terpopuler Koleksi Pilihan

3 Tahun Rusak Berat, 2 Jembatan di Tabanan Diperbaiki Tahun Ini


I Dewa Made Krisna Pradipta - detikBali

Jembatan Tukad Yeh Ngigih di Desa Gadung Sari, Kecamatan Selemadeg Timur segera diperbaiki setelah rusak berat akibat banjir bandang 2023.
Foto: Jembatan Tukad Yeh Ngigih di Desa Gadung Sari, Kecamatan Selemadeg Timur segera diperbaiki setelah rusak berat akibat banjir bandang 2023. (Istimewa)
Tabanan -

Pada banjir bandang 2023 silam, terdapat dua jembatan di Tabanan yang rusak berat. Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tabanan berencana memperbaiki jembatan itu menggunakan anggaran APBD Kabupaten Tabanan 2026.

Kepala Dinas PUPR Tabanan, I Gede Partana, mengatakan dua jembatan yang dibangun tersebut yakni Jembatan Tuka-Cau Belayu di Kecamatan Baturiti, dengan pagu anggaran sebesar Rp 9,6 miliar. Kemudian, Jembatan Tukad Yeh Ngigih, Kecamatan Selemadeg Timur, dengan pagu Rp 6,4 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Partana, kedua jembatan tersebut merupakan sisa penanganan infrastruktur pascabencana banjir bandang 2023 yang belum sempat diselesaikan. Kondisi keduanya mengalami kerusakan berat sehingga perlu dibangun kembali. Terlebih jembatan tersebut merupakan akses penting dalam menggerakkan perekonomian di desa.

"Pasca bencana banjir bandang tahun 2023, sebelumnya sudah ada tiga jembatan yang ditangani pada 2023 dan 2024. Tinggal dua jembatan ini yang belum selesai. Tahun ini kami tuntaskan," ujar Partana, Senin (8/6/2026).

ADVERTISEMENT

Saat ini proses pengerjaannya telah berjalan dengan pembangunan jembatan baru menggantikan struktur lama yang rusak akibat banjir.

Partana menjelaskan setelah dua proyek tersebut rampung, penanganan dampak bencana 2023 pada aset milik kabupaten pada dasarnya sudah selesai. Namun, masih terdapat sejumlah aset desa yang mengalami kerusakan, seperti di wilayah Kecamatan Marga, yang hingga kini belum mendapat pendanaan untuk perbaikan.

"Ke depan yang masih tersisa bukan lagi jembatan milik kabupaten, melainkan beberapa aset desa yang putus atau rusak saat bencana 2023. Usulannya sudah ada, tapi karena itu bukan aset kabupaten, pendanaannya belum tersedia," tegasnya.

Partana menambahkan dengan dimulainya pengerjaan pembangunan dua jembatan tersebut, diharapkan konektivitas masyarakat terdampak bencana dapat kembali normal sekaligus meningkatkan keamanan dan kelancaran mobilitas warga.

"Akses jembatan tersebut sangat penting bagi masyarakat dalam perputaran ekonomi di desa," pungkasnya.




(hsa/dpw)










Hide Ads