Pemerintah tengah mengkaji pemberian stimulus. Kajian ini dilakukan sesuai menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp 16.250.
Hal ini diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Namun, Bahlil menegaskan, pemerintah hingga kini belum mencapai satu keputusan apa pun soal insentif dan stimulus.
"Kami belum ada keputusan sama sekali, kami lagi lakukan kajian," beber Bahlil singkat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, Kamis (12/6/2026) malam dilansir dari detikFinance.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain stimulus, ungkap Bahlil, pemerintah juga sedang mengkaji agar energi subsidi bisa dinikmati hanya oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Menurutnya, masyarakat tingkatan ekonomi mampu jangan sampai memaksakan diri membeli BBM subsidi.
"Kita lagi meng-exercise semua alternatif, yang penting adalah kita itu menjaga saudara-saudara kita yang ekonomi ke bawah, ini subsidi. Sementara yang non subsidi ini saudara-saudara kita yang punya kemampuan ekonomi jauh lebih baik dari saudara-saudara yang memang harus disubsidi," beber Bahlil.
Sebelumnya, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan berbagai opsi stimulus dan insentif saat ini sedang dibahas untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan. Hal ini diungkapkan Misbakhun usai BBM Pertamax mengalami kenaikan.
"Sebagai wakil rakyat, saya memahami bahwa kenaikan harga BBM selalu menimbulkan beban bagi masyarakat. Karena itu, kebijakan ini harus dipahami bukan hanya dari sisi harga, tetapi juga dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam jangka panjang," kata Misbakhun dalam keterangan resminya, Kamis (11/6/2026) kemarin.
Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!
(iws/iws)










































