Agro Techno Park (ATP) di Desa Belok/Sidan, Kecamatan Petang, Badung, Bali, sering kali kedatangan pelancong domestik hingga wisatawan mancanegara untuk melihat budidaya kopi Arabika. Meski ramai dikunjungi turis, kawasan technopark ini rupanya belum bisa menarik retribusi masuk kepada para pengunjung.
"Kawasan ATP ini dari awal dibangun memang diproyeksikan sebagai pusat penerapan teknologi pertanian berbasis budidaya kopi Arabika, bukan untuk berorientasi mencari keuntungan atau profit semata. Lagipula tempat ini statusnya belum menjadi Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) karena belum memenuhi sejumlah ketentuan yang disyaratkan," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, Kamis (18/6/2026).
Baca juga: 5 Puri di Bali yang Terbuka untuk Wisatawan |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raka Sukadana menjelaskan dinasnya sengaja belum melakukan promosi pariwisata karena masih fokus mempertahankan ATP sebagai pusat edukasi pertanian. Tempat ini pun lebih sering menerima kunjungan dari instansi pemerintah, lembaga kemasyarakatan, serta institusi pendidikan yang ingin mempelajari rantai produksi kopi secara mendalam.
"Instansi maupun lembaga pendidikan yang datang ke sini orientasinya murni untuk mengenal bagaimana budidaya kopi Arabika dari hulu ke hilir. Di sana juga sudah ada UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) resmi yang baru, di mana kepala UPTD Badung ATP tersebut sudah kami angkat dan mulai bertugas per tanggal 1 Maret 2026 kemarin," kata Raka.
Penerapan teknologi pertanian di kawasan ini mencakup seleksi bibit unggul, pengaturan jarak tanam, pengelolaan tanaman pelindung, sistem irigasi, hingga penanganan pasca-panen. Contoh keberhasilannya terlihat dari tanaman kopi yang sudah berbuah sebelum usia dua tahun, serta penyelamatan tanaman yang hampir mati akibat kekeringan menggunakan metode irigasi tetes.
"Melalui pengawasan dan evaluasi yang ketat, kami pastikan seluruh pertumbuhan tanaman kopi di ATP berjalan sesuai standar Good Agriculture Practice (GAP). Jadi petugas kami mengontrol betul mulai dari kewajiban petik merah saat panen, penjemuran biji kopi demi mendapat kadar air yang tepat, sortasi, sampai ke teknik pemanggangan atau roasting," tutur Raka.
Terkait operasional harian, Dinas Pertanian dan Pangan Badung secara rutin mengalirkan anggaran pemeliharaan kawasan dari APBD setiap tahunnya. Alokasi dana tersebut digunakan untuk pengadaan pupuk, bahan bakar alat mesin pertanian, penyediaan biji kopi untuk pembibitan, hingga pembayaran upah tenaga kerja kerja setempat.
"Kalau untuk anggaran pembangunan fisik saat ini memang sengaja tidak kami poskan lagi karena sarana dan prasarana pendukung aktivitas pengolahan kopi dinilai masih sangat mencukupi. Semua wisatawan yang berkunjung, termasuk yang sekadar mampir ke kedai kopi untuk minum sembari menikmati pemandangan alam, seluruh datanya tercatat rapi di buku kunjungan kami," jelasnya.
Raka tidak menampik bahwa keberadaan kawasan ATP saat ini belum mampu memotong rantai tengkulak yang sering merugikan petani lokal di sekitarnya. Hal itu terjadi karena ATP hanya memproses, mengolah, dan menjual hasil panen dari tanaman kopi yang berada di dalam kawasan mandiri milik pemerintah daerah saja.
"Kami menyadari ATP belum bisa menjadi wadah penampung hasil panen dari masyarakat sekitar, namun ke depan agenda kami adalah mengkaji peluang agar tempat ini bertransformasi menjadi center of excellence atau pusat keunggulan kopi di Badung. Untuk membangkitkan target integrasi pertanian dan pariwisata (agrowisata), kami juga berencana menghidupkan kembali acara tahunan seperti Hari Kopi dan Pasar Agro untuk mempertemukan petani dengan pembeli langsung di lokasi," pungkas Raka.
(nor/nor)

