Kerugian PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membengkak menjadi US$ 319,39 juta atau sekitar Rp 5,42 triliun (kurs Rp 17.000/US$) sepanjang 2025. Manajemen Garuda Indonesia memberikan alasan perusahaan bisa merugi hingga triliunan rupiah.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengatakan kerugian membengkak karena penurunan kinerja perusahaan. Hal itu terjadi imbas puluhan armada pesawat tak layak terbang atau unserviceable aircraft di semester I-2025.
"Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025, di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance," ujar Glenny dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (23/3/2026) dilansir dari detikFinance.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Glenny, terdapat 99 armada pesawat milik Garuda Indonesia Group siap terbang atau serviceable aircraft hingga akhir 2025. Angka tersebut naik dari data per Juni 2025, yakni sebanyak 84 armada.
Total unserviceable armada hingga akhir 2025 sebanyak 43 pesawat dan saat ini dalam tahapan penyelesaian perawatan armada. Akibatnya, jumlah penumpang Garuda Indonesia Group pun terkoreksi sepanjang tahun 2025.
"Di tengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta, terkoreksi 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya," jelas Glenny.
Selain itu, rugi bersih perusahaan juga dipicu oleh fluktuasi mata uang rupiah. Kemudian, peningkatan biaya fixed cost juga turut mendorong bengkaknya rugi bersih perusahaan seiring program pemulihan serviceability armada yang belum serviceable.
Tak cuma itu, menurut Glenny, tekanan nilai tukar rupiah dan tantangan rantai pasok industri aviasi global juga turut mengerek biaya dan proses perawatan. Garuda Indonesia akan mendorong transformasi bisnis secara konsisten dengan pemulihan progres armada armada yang tengah berlangsung.
"Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid," imbuh Glenny.
Glenny menambahkan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai memberikan dampak terhadap pemulihan kinerja operasional di semester II 2025. Setidaknya, Perseroan menargetkan operasional 68 armada Garuda dan 50 pesawat Citilink di akhir tahun 2026.
"Melalui dukungan pendanaan capital injection di akhir tahun 2025, Garuda Indonesia menargetkan sedikitnya di akhir tahun 2026 akan mengoperasikan sebanyak 68 serviceable aircraft, sedangkan Citilink menargetkan serviceable aircraft di akhir 2026 sebanyak 50 pesawat," jelas Glenny.
Diberitakan sebelumnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) merugi sebesar US$ 319,39 juta sepanjang 2025. Jika dihitung dengan asumsi kurs Rp 17 ribu, kerugian itu mencapai sekitar Rp 5,42 triliun. Nominal kerugian itu membengkak dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni sebesar US$ 69,77 juta atau sekitar Rp 1,18 triliun.
(hsa/hsa)










































