detikBali

Rupiah Anjlok, Asita Bali Dorong Paket Wisata Dijual Pakai Dolar AS

Terpopuler Koleksi Pilihan

Rupiah Anjlok, Asita Bali Dorong Paket Wisata Dijual Pakai Dolar AS


Fabiola Dianira - detikBali

Ketua Asita Bali, I Putu Winastra, dalam acara BBTF 2026 di Nusa Dua, Jumat (29/5/2026).
Foto: Ketua Asita Bali, I Putu Winastra, dalam acara BBTF 2026 di Nusa Dua, Jumat (29/5/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Badung -

Dolar Amerika Serikat (AS) yang makin perkasa terhadap rupiah dinilai memiliki dampak positif terhadap industri pariwisata. Turis-turis asing diperkirakan akan lebih banyak mengalir ke Indonesia, termasuk Bali. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait perubahan pasar dan kebutuhan barang impor.

Ketua DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali, I Putu Winastra mengatakan menguatnya dolar AS (US$) menjadi berkah terutama bagi pelaku industri yang menjual paket wisata dalam mata uang asing. Dia pun mendorong paket wisata dijual menggunakan dolar.

"Kalau kita berbicara dari sisi industri, sebenarnya dengan kenaikan mata uang dolar AS ini terhadap rupiah, itu memberikan berkah juga kepada kami, terutama yang memang kami menjual paket-paket wisata dalam bentuk mata uang asing di negara-negara tertentu," ujarnya saat ditemui di acara Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Bali International Convention Centre (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, Bali pada Jumat (29/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, kondisi berbeda dirasakan ketika paket wisata dijual dalam rupiah. Maka dari itu, ia mendorong pelaku usaha pariwisata untuk menjual paket wisata menggunakan dolar.

ADVERTISEMENT

"Oleh karena itu, memang harapan kami dari pelaku, khusus pelaku inbound yang mendatangkan wisatawan asing ke Indonesia, bisa menjual paket-paket dalam bentuk US Dolar," katanya.

Meski demikian, ia mengakui pelaku usaha tetap harus berhati-hati karena adanya aturan terkait penggunaan mata uang asing di Indonesia.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menyoroti tantangan lain akibat pelemahan rupiah, terutama terkait kebutuhan produk impor di industri pariwisata, seperti bahan makanan dan kebutuhan hotel yang harganya ikut naik.

Meski begitu, kondisi tersebut dinilai dapat menjadi peluang untuk lebih mengedepankan produk lokal.

"Wisatawan mancanegara itu, mereka menghargai yang lokal produk sebetulnya. Jadi kita harus bisa sebagai produsen. Restoran, hotel, yang kita tampilkan yang lokal," jelasnya.

Selain pelemahan rupiah, konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penerbangan internasional juga mulai memengaruhi strategi pasar pariwisata Indonesia. Pelaku industri kini mulai mengalihkan fokus dari pasar Eropa dan Amerika ke kawasan yang lebih realistis dijangkau, seperti Asia dan Australia.

Namun, perubahan pasar tersebut juga membawa tantangan tersendiri. Salah satunya perbedaan perilaku wisatawan asal Eropa dan Amerika yang umumnya memiliki lama tinggal lebih panjang dibanding wisatawan Asia.

"Untuk pasar Eropa-Amerika kan long of stay-nya kalau summer nih panjang nih, sebulan mungkin 3 minggu. Nah, sekarang kalau dari Asia kan sebentar-sebentar mereka. Nah, ini harus dikombinasi. Jadi, memang pelaku usaha sekarang mesti kreatif, mesti dinamis juga menghadapi situasi seperti ini," jelasnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan global, Marthini optimistis industri pariwisata Indonesia tetap mampu bertahan, seperti saat melewati pandemi Covid-19.

"Covid aja yang tiga tahun kita bisa keluar, sekarang kami optimistis masih bisa," katanya.




(hsa/iws)










Hide Ads