Kepulauan Nusantara sebagai lintasan penutur Austronesia menyimpan tinggalan unik dan menarik. Salah satunya berada di Pulau Bali dan disimpan di Pura Penataran Sasih.
Peradaban manusia tidak berdiri sendiri meskipun terpisah oleh lautan. Migrasi dan difusi kebudayaan terjalin dari waktu ke waktu di berbagai tempat. Begitu pula dengan peradaban manusia Austronesia. Berkembang dari daratan Taiwan hingga ke Papua dan bahkan Madagaskar.
Baca juga: 20 Tempat Bersejarah di Bali dan Sejarahnya |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti menemukan berbagai tinggalan yang mengisyaratkan budaya yang sama dari berbagai tempat di kawasan ini, termasuk artefak nekara. Benda yang berasal dari zaman perunggu ini ditemukan juga di wilayah Pejeng, Kabupaten Gianyar. Diklaim sebagai nekara terbesar di Asia.
Simak penjelasan selengkapnya mengenai Nekara Pejeng di Kabupaten Gianyar!
Apa Itu Nekara Pejeng?
Kebudayaan manusia berkembang dari memanfaatkan benda seperti batu dan kayu menjadi membuat logam. Benda-benda logam ini dihasilkan dari bahan-bahan campuran seperti tembaga dan timah yang membentuk logam perunggu. Dari pembuatan logam tersebut, diciptakanlah berbagai alat-alat, termasuk nekara.
Nekara (kettledrum) adalah artefak orang-orang Austronesia yang termasuk dalam kebudayaan Dongson. Bila ditelusuri, kebudayaan Dongson adalah bentuk kebudayaan yang berasal dari Dongson, Vietnam. Nekara termasuk ke dalam budaya ini karena memiliki corak bahan dan motif yang serupa dengan berbagai temuan lain.
Nekara memiliki bentuk seperti tabung dengan permukaan tabuh di bagian atas. Seluruh bagian nekara terbuat dari logam dengan motif di bagian tabuh dan bagian badan. Nekara Pejeng memiliki bentuk yang luar biasa. Panjangnya sekitar 186 cm dan garis tengah bidang pukulnya sekitar 160 cm. Beberapa bagian nekara telah koyak sehingga tidak sepenuhnya utuh.
Keunikan Nekara Pejeng
Sebutan Nekara Pejeng tidak hanya berlaku untuk yang ada di Pura Penataran Sasih saja tetapi juga nekara lain dengan bentuk serupa. Ciri utamanya adalah permukaan tabuh yang mencuat keluar dan menjadi lebih lebar dibanding diameter badan nekara.
Bentuknya itu berbeda dengan nekara lain. Nekara dari Dongson memiliki permukaan tabuh yang tampak lebih proporsional. Adanya perbedaan bentuk nekara dianggap sebagai bukti bahwa artefak ini dibuat secara lokal. Situs pembuatan logam di sekitar Gianyar juga makin menguatkan dugaan tersebut.
Masyarakat mengenal Nekara Pejeng sebagai "Bulan Pejeng" sebuah istilah yang terkait dengan legenda atau mitos di masa lalu. Ada beberapa versi yang diungkapkan mengenai asal-usul benda ini. Dikisahkan bahwa kendaraan berupa kereta kencana membawa Bulan melintasi langit setiap malam. Salah satu rodanya kemudian terlepas dan jatuh di area Pejeng.
Ada pula yang menganggap bahwa Nekara Pejeng adalah hiasan telinga atau anting-anting Dewi Ratih yang merupakan Dewi Bulan dalam mitologi Bali. Saat ini Nekara Pejeng tidak lagi ditabuh atau bahkan disentuh, artefak logam ini telah menjadi benda sakral yang dihormati masyarakat.
Daya Tarik Wisata Nekara Pejeng
Nekara Pejeng berada di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pengunjung dapat mendatangi pura ini karena terletak di jalan utama dan berdekatan dengan beberapa tempat wisata lain seperti Goa Gajah dan Museum Sarkofagus. Situs ini pun akan dilewati jika menuju ke Tirta Empul jika berangkat dari Denpasar.
Pengunjung tidak dimintai tiket masuk ke area pura tetapi akan dimintai sumbangan kebersihan oleh pengurus. Melihat Nekara Pejeng juga diharuskan memakai pakaian khusus seperti kain kamen karena letak nekara yang persis di dalam pura. Bagi yang tidak memiliki sebaiknya meminjam atau menyewa kain, terdapat juga penjual kain bagi pengunjung yang ingin membelinya.
Demikian informasi mengenai Nekara Pejeng sebagai salah satu artefak logam terbesar di Asia.
(nor/nor)










































