Pulau Seribu Masjid atau Pulau Lombok memiliki banyak cerita atau kisah mitologis, salah satunya adalah tentang Telaga Lindur. Mitos Telaga Lindur ini ternyata memiliki makna yang mendalam tentang bagaimana leluhur mengantisipasi bencana alam.
Seperti apa kisah Telaga Lindur? Simak penjelasan selengkapnya!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana Isi Mitos Telaga Lindur?
Telaga Lindur sebenarnya bukanlah telaga atau danau nyata. Tidak ada yang bisa memastikan secara spesifik keberadaan tempat tersebut. Meski begitu, tutur lisan mengenai Telaga Lindur diceritakan secara turun temurun.
Pada zaman dahulu hiduplah seekor kerbau bermata merah yang tinggal di sekitar kaki Gunung Rinjani. Kerbau tersebut bernama Donte, pemiliknya kemudian membawa Donte ke daerah Bayan. Masyarakat kemudian mengkeramatkan Donte dan ia berganti nama menjadi Sidamalung.
Kerbau tersebut berendam di sebuah telaga yang disebut Telaga Lindur, lantas Sidamalung bergerak atau mengamuk hingga menyebabkan gempa. Gagak yang hinggap di tanduknya kemudian terbang dan membawa kabar buruk tersebut. Namun, penduduk desa mengabaikannya. Gempa pun kemudian terjadi dan berlarilah para warga menyelamatkan diri.
Karena kejadian itu, ada dua binatang yang berdoa, yakni belalang minyak dan katak. Sang belalang berdoa dengan kalimat "nenek kaji, sawekang kao' niki mengamuk, ni gitak ni gigin kaji bik bireng sengak sikk luen sembek manusia, kanca bungkuk bongkor tiang memonggok manusia sik ngenangan."
Artinya " Ya Tuhan, mohon perintahkan kerbau itu berhenti mengamuk karena gigi saya sampai menghitam sebab sesembeq yang digunakan manusia dan punggung saya sampai bungkuk memikul mayat-mayatnya".
Katak pun juga berdoa "nenek kaji sawekang kao' niki mengamuk sengak jangka bik a tapak bongkor tiang te ilat isik manusia nyelametang dirik a" artinya adalah "Ya Tuhan, perintahkan kerbau itu mengamuk karena punggung saya sampai pipih diinjak oleh manusia yang berlari menyelamatkan diri".
Doa kedua binatang itu justru membuat Tuhan murka karena dianggap tidak benar dan Sidamalung pun kembali mengamuk dan membuat gempa susulan.
Kearifan Lokal Sebagai Bentuk Mitigasi Bencana
Mitos tentang Telaga Lindur adalah gambaran tentang bagaimana gempa terjadi di Lombok. Telaga Lindur diibaratkan kawah Gunung Rinjani dan amukan kerbau bermata merah adalah letusan magma yang menyebabkan gempa vulkanik.
Menurut Ahmad Fauzan dan Lalu Adul Aziz dalam artikel berjudul "Kearifan Lokal Tentang Mitigasi Bencana di Kabupaten Lombok Utara Dalam Mitos Telaga Lindur" yang diterbitkan tahun 2020 menuliskan tentang pengaruh mitos di masyarakat.
Masyarakat masih memegang mitos ini sebagai pengetahuan mengenai bencana lokal seperti gempa bumi. Bencana alam tidak serta merta terjadi begitu saja, ada tanda-tanda alam yang menyertainya yang dianalogikan oleh kabar dari gagak ketika akan terjadi gempa.
Pembangunan modern di kawasan yang disucikan juga dapat mengganggu harmoni dengan alam yang telah terjadi selama ini. Gempa bumi tahun 2018 di Lombok juga dipercaya memiliki kaitan dengan mitos tersebut. Mitos Telaga Lindur menjadi pembelajaran agar manusia menahan diri dari merusak kelestarian alam.
(nor/nor)










































