Sejumlah daerah memiliki tradisi dalam menyikapi kematian. Seperti halnya tradisi Lewak Tapo yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Suku Lamaholot di Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lewak Tapo merupakan prosesi adat atau ritual untuk mencari penyebab kematian seseorang yang dinilai tidak wajar. Salah satu tahapan dalam pelaksanaan ritual ini adalah prosesi belah kelapa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi Lewak Tapo berkaitan dengan cara pandang masyarakat Lamaholot terhadap Tuhan, leluhur, dan manusia. Ritual ini dimaknai sebagai perantara untuk mencari kebenaran atas kematian yang dianggap misterius sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan orang yang telah meninggal dunia.
Simak ulasan mengenai ritual Lewak Tapo dalam kehidupan masyarakat Suku Lamaholot seperti dirangkum detikBali berikut ini.
Kematian Menurut Masyarakat Lamaholot
Bagi masyarakat Lamaholot, ritual Lewak Tapo tidak hanya dimaknai sebagai simbol spiritual. Tradisi ini juga menjadi media penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan hukum adat serta kepercayaan masyarakat setempat.
Masyarakat Lamaholot meyakini bahwa kematian tak wajar yang menimpa seseorang saat usia muda merupakan bentuk hukuman atas kesalahan yang pernah dilakukan. Kematian tak wajar yang dimaksud seperti karena kecelakaan, pembunuhan, sakit, maupun sebab lainnya.
Menurut tradisi Lamaholot, keluarga yang ditinggalkan diwajibkan melaksanakan ritual Lewak Tapo. Hal ini sekaligus sebagai upaya adat untuk mencegah agar kejadian serupa tidak terulang pada generasi berikutnya. Tradisi ini juga menjadi pengingat agar manusia selalu menjaga perilaku, menghormati adat, dan hidup selaras dengan nilai-nilai luhur.
Pelaksanaan Ritual Lewak Tapo
Ritual Lewak Tapo dilakukan melalui prosesi adat yang berlangsung dalam suasana sakral, baik melalui ucapan maupun sarana pendukungnya. Media utama dalam ritual ini adalah tapo atau buah kelapa yang melambangkan kepala manusia sebagai bagian tubuh paling vital.
Ritual ini dipimpin oleh molan atau petinggi adat yang dipercaya memiliki kepribadian suci. Dalam pelaksanaannya, setiap tahapan prosesi mengandung makna simbolis. Nantinya, molan bertugas membelah buah kelapa untuk mencari petunjuk mengenai penyebab kematian seseorang.
Prosesi tersebut dilakukan dengan melafalkan ucapan atau mantra adat secara khidmat. Masyarakat setempat percaya bahwa hasil belahan kelapa itu dapat memberikan petunjuk maupun jawaban atas penyebab kematian seseorang yang dianggap tidak wajar.
Nah, itulah ulasan mengenai tradisi Lewak Tapo bagi masyarakat Suku Lamaholot di Pulau Adonara, Flores Timur, NTT. Semoga bermanfaat ya, detikers!
(iws/iws)










































