Sebuah tempat makan bernama "Duduk Makan" di Jalan Tukad Musi VI No. 1, Sumerta Kelod, Denpasar Timur, tak hanya menawarkan konsep unik berbasis kontainer, tetapi juga menyimpan makna sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pemilik Duduk Makan, Christ Agustinus, mengungkapkan nama tersebut berasal dari ide sang istri. Nama itu dipilih karena merepresentasikan kebiasaan dasar saat makan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Duduk Makan itu yang kasih nama istri saya. Sebenarnya karena menurut istri saya simple aja dan orang makan identik sama duduk," jelas Agustinus ketika diwawancarai tim detikBali, Senin (13/24/2026).
Nama tersebut juga terinspirasi dari pengalaman pribadi mereka dalam mengasuh anak. Agustinus menceritakan, saat anaknya masih kecil, ia kerap dipanggil untuk duduk saat waktu makan.
Nama "Duduk Makan" pun menjadi pengingat akan kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini, sekaligus menghadirkan nuansa hangat yang dekat dengan keluarga.
Agustinus yang berlatar belakang arsitektur membangun tempat ini bersama istrinya secara mandiri, mulai dari desain hingga pengembangan menu. Awalnya, Duduk Makan hanya menyajikan menu sederhana seperti kopi dan mi instan.
"Dulu waktu buka menunya nggak seperti sekarang. Dulu simple-simple, cuma ada kopi dan mie makanannya. Seberjalannya waktu, muncullah menu-menu baru yang sesuai saya aja, nggak ada riset kalau jualan ini laku atau nggak," tutur Agustinus.
Ia menambahkan bahwa menu yang terdapat dalam daftar sajian merupakan masakan yang bisa diolah secara mudah oleh Agustinus. Dari hidangan utama hingga pencuci mulut, seluruhnya merupakan buatan sendiri.
"Jadinya di sini ya seperti itu, maksudnya kayak stok. Memang ada suatu saat, orang cari, tapi kalau saya nggak buat ya nggak ada," kata Agustinus.
Sudah dua tahun berjalan, Duduk Makan dibangun dari kontainer seharga Rp 25 juta yang dibeli di Surabaya, Jawa Timur. Dibuat bertumpuk, ternyata Agustinus memang mengincar kesederhanaan dalam mendirikan tempat makan ini.
"Pertama kantor arsitek, rencananya mau dibagi ruangannya, tapi karena karyawan lebih betah kerja di tempat lama, jadinya yang bawah nggak kepake. Sebelumnya ini tanah kosong. Jadi biar cepet dan simple aja sih, cuma beli kontainer lalu ditumpuk," ujar Agustinus.
Pembangunan Duduk Makan sendiri hanya sebatas dibantu para karyawan Agustinus dan tambahan dua tukang untuk pemindahan kontainer. "Biasanya mereka kalau senggang saya panggil ke sini, ngecat segala macem. Bertahap aja. Bahannya pun terbuat dari proyek sisa lalu saya beli, seperti jendela," tutur Agustinus.
Dengan kisaran harga Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu, Duduk Makan menawarkan suasana yang nyaman dan homey. Interior bernuansa merah bata dan putih dipadukan dengan dekorasi serta permainan papan (board game), memberikan pengalaman santai bagi pengunjung.
(nor/nor)










































