Jumlah armada kapal cepat atau speedboat rute Bali menuju Gili Trawangan dan Pelabuhan Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), bertambah dua kali lipat. Penambahan armada tersebut dinilai menjadi angin segar bagi sektor pariwisata di NTB.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB Ahmad Nur Aulia mengatakan jumlah operator kapal cepat kini bertambah dari tiga menjadi enam armada. Enam operator tersebut yakni Ekajaya, Ekajaya Matra, Semaya, Virendra, Wahana, dan Dharma Jaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang sudah enam armada dari semula ada tiga armada. Jadi bertambah dua kali lipat. Ini bisa jadi angin segar ya," tegas Aulia, Selasa (26/5/2026).
Menurut Aulia, penambahan kapal cepat ini diharapkan bisa memperlancar arus wisatawan yang ingin liburan ke kawasan tiga Gili Lombok, Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Terutama menjelang periode high season pada Juni hingga Desember.
"Sekarang masuk periode high season ya. Namun jumlah kunjungan belum kami data. Kami tunggu periode Mei selesai dulu," ujarnya.
Di sisi lain, salah satu penopang meningkatkan jumlah kunjungan ke kawasan tiga Gili Lombok juga sangat dipengaruhi tuntasnya pembangunan Pelabuhan Senggigi. Keberadaan pelabuhan tersebut berdampak pada kenyamanan armada yang menyadarkan kapal sebelum melanjutkan trayek ke Gili Trawangan.
"Sekarang kan dermaga Senggigi sudah rampung. Dan tentunya ini akan berpengaruh ke demand kunjungan yang mulai meningkat," katanya.
Menurut dia, penambahan armada kapal cepat Bali-Gili Trawangan ini juga tidak menutup kemungkinan akan menambah jumlah rute destinasi di wilayah NTB. Pemprov NTB juga membuka peluang penambahan rute kapal cepat dengan tujuan Trawangan menuju Pulau Moyo.
"Ya dengan adanya kerja sama lintas tiga provinsi, Bali, NTT dan NTB kami bisa membuat trip perjalanan yang lebih banyak. Sehingga untuk kunjungan ke kita juga semakin bisa tumbuh ke depan," ucap Aulia.
Sesuai arahan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, destinasi di NTB butuh konektivitas yang perlu dikembangkan. Termasuk ke beberapa destinasi di Pulau Sumbawa.
"Kalau rencana ya tentunya semua destinasi kami bisa punya akses dan konektivitas. Lagi kalau berbicara ke Moyo kan tentunya berbicara masalah jarak dan waktu. Tentu ini menjadi harapan dari pada wisatawan itu kan untuk mengakses Moyo," ujar Aulia.
Aulia mengeklaim kenaikan nilai mata uang dolar yang sudah tembus di angka Rp 17.796 per dolar juga disinyalir menjadi pemicu tingginya animo wisatawan asing untuk liburan ke Bumi Gora.
"Jadi kita bisa menjadi opsi kunjungan wisatawan asing ya. Satu sisi (pelemahan rupiah) ini menjadi peluang kita di sini," tandasnya.
(nor/nor)










































