Kota Denpasar menjadi satu dari enam daerah di Indonesia yang tergabung dalam ASEAN Smart Cities Network (ASCN), bersama Jakarta, Makassar, Semarang, Banyuwangi, dan Sumedang. Dalam pengembangan sektor pariwisata, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar mengusulkan rencana penerapan teknologi blockchain untuk melindungi data pribadi wisatawan.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfos) Kota Denpasar, Gde Wirakusuma Wahyudi, mengatakan teknologi blockchain dirancang untuk meningkatkan keamanan data tamu hotel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di pariwisata, yang kita dorong sekarang adalah penggunaan teknologi blockchain untuk perlindungan data pribadi. Contoh ya, mohon maaf, kalau pariwisata itu kan wajib setor identitas ya, ditakutkan bocor, nanti pelanggan komplain," tutur Wahyudi ketika diwawancarai detikBali di Kantor Diskominfos Kota Denpasar, Senin (18/5/2026).
Menurut Wahyudi, rencana tersebut masih berada pada tahap pembahasan dan memerlukan proses panjang sebelum dapat diterapkan secara menyeluruh. Ia menilai penerapan teknologi itu masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kesiapan pelaku usaha pariwisata dan regulasi pendukung.
"Masih panjang ini perjalanannya. Kalau hotel besar mungkin diterapkan, tapi kalau hotel kecil belum tentu kita jamin mampu mengikuti ketentuan itu. Proyek ini kan masih perlu regulasi, perlu perencanaan, perlu anggaran," imbuh Wahyudi.
Secara konsep, teknologi blockchain nantinya diterapkan melalui sistem kode QR untuk registrasi tamu hotel. Data identitas pengunjung akan dienkripsi menjadi kode unik yang hanya dapat diverifikasi menggunakan alat pemindai khusus. Di satu sisi, data akan tersimpan dalam server khusus, sehingga pihak hotel tidak dapat mengaksesnya.
Wahyudi mencontohkan sistem tersebut serupa dengan proses check-in transportasi di bandara, yakni penggunaan kode QR pada boarding pass sebagai izin keberangkatan penumpang.
"Hotel cukup menyediakan mesin yang menghubungkan data untuk dienkripsi menjadi QR code. Antara data KK (Kartu Keluarga), KTP (Kartu Tanda Penduduk) nanti akan menjadi QR code. Orang nggak bisa baca kecuali di-scan. Tapi dia nggak bisa nyimpen. Nanti disimpan di server khusus yang aksesnya hanya diperbolehkan oleh pemilik data," jelas Wahyudi.
Respon Masyarakat Menghadapi Digitalisasi
Menurut Wahyudi, tingginya mobilitas masyarakat membuat layanan digital semakin dibutuhkan. Salah satu layanan yang dikembangkan Pemkot Denpasar ialah Denpasar Prama Sewaka (DPS), platform layanan terintegrasi untuk berbagai kebutuhan publik, mulai dari administrasi kependudukan hingga layanan kesehatan dan pariwisata.
"Jadi angka melek digital di Kota Denpasar cukup tinggi. Tadi saya bilang, koneksi internet 80 persen. Jadi hampir 80 persen warga Kota Denpasar sudah terkoneksi internet. 90 persen dari 80 persen itu sudah mencari informasi di dunia digital. Jadi dari situ dilihat angka melek digitalnya sudah cukup tinggi," terang Wahyudi.
Melalui layanan DPS, masyarakat tidak lagi harus datang langsung ke kantor pelayanan. Sebab, pihaknya sudah bekerja sama dengan Gojek dan Grab untuk pengiriman dokumen kependudukan ke rumah warga.
"Bahkan di Dukcapil nggak perlu ke kantor lagi. Kalau masyarakat memang tidak punya waktu untuk datang, bisa kirim dokumennya ke rumah, sudah kita hubungkan ke Gojek dan Grab," terang Wahyudi.
Selain itu, Diskominfos Denpasar rutin menggelar edukasi literasi digital untuk berbagai kalangan, mulai dari pelajar SMP, guru, lansia, hingga kelompok PKK dan komunitas anak muda. Sosialisasi bagi pelajar SMP biasanya dilakukan saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan melibatkan sejumlah komunitas digital.
Denpasar Smart City Fokus pada 6 Dimensi
Proyek Denpasar Smart City mencakup enam dimensi utama, yaitu Smart Society, Smart Economy, Smart Governance, Smart Branding, Smart Living, dan Smart Environment. Konsep itu ditujukan untuk memberikan inovasi untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di Kota Denpasar.
"Salah satunya pada Smart Society, kami juga ada Graha Nawasena. Itu bentuknya wadah pelatihan bagi kelompok rentan, yang terpinggirkan. Ada kelas komputer, memasak, musik, dan sebagainya," jelas Wahyudi.
Selain itu ada Radio Inklusi dengan segmen acara membahas inklusivitas bahkan dengan pekerja yang berasal dari kaum disabilitas. Ada pula Dharma Negara Alaya dan Graha Yowana Suci untuk ruang mengembangkan kreativitas bagi seluruh masyarakat Denpasar.
Tidak hanya itu, Smart Society turut membangun dan memelihara ketahanan sosial budaya seperti ogoh-ogoh dan subak. Salah satu perkembangan dalam Smart Economy adalah revitalisasi pasar dengan transformasi pasar tradisional menjadi modern melalui penggunaan lift, WiFi, hingga transaksi elektronik.
Lalu, Smart Governance menekankan pada DPS, layanan pemerintahan terintegrasi. Smart Branding berfokus pada salah satunya dari keberadaan aneka festival kreatif seperti Denpasar Festival (Denfest) dan Denpasar Teknologi Informasi dan Komunikasi Festival (DTIK Festival).
Smart Living melihat prioritas pada layanan langsung untuk masyarakat salah satunya seperti layanan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) hingga Pusdalop penanggulangan bencana.
Terakhir, Smart Environment dengan adanya SiDarling (Sistem Informasi Sadar dan Peduli Lingkungan). Masih banyak sarana lain yang menjadi bagian dalam perkembangan Smart City Denpasar.
(nor/nor)










































