detikBali

Tenun Trisna Sidemen, dari Usaha Rumahan Jadi Destinasi Wisata Endek Tradisional

Terpopuler Koleksi Pilihan

Tenun Trisna Sidemen, dari Usaha Rumahan Jadi Destinasi Wisata Endek Tradisional


I Wayan Selamat Juniasa - detikBali

Proses pembuatan kain endek khas Sidemen di Tenun Trisna Endek Sidemen, Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Minggu (7/6/2026) (foto: I Wayan Selamat Juniasa/detikBali)
Foto: Proses pembuatan kain endek khas Sidemen di Tenun Trisna Endek Sidemen, Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Minggu (7/6/2026) (foto: I Wayan Selamat Juniasa/detikBali)
Karangasem -

Tenun Trisna Endek Sidemen di Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Bali, konsisten mempertahankan tradisi menenun secara tradisional di tengah perkembangan industri tekstil modern. Berkat konsistensi tersebut, sentra kerajinan ini kini berkembang menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

Pemilik Tenun Trisna Endek Sidemen, I Gusti Ngurah Made Suarba, mengatakan usaha tersebut mulai berkembang pada 2013. Saat itu, ia hanya memiliki dua alat tenun tradisional dan mempekerjakan dua orang penenun.

"Awalnya hanya punya dua alat tenun. Tapi, seiring waktu dan meningkatnya permintaan, sekarang sudah berkembang menjadi enam alat tenun dengan 40 orang pekerja," kata Suarba, Minggu (7/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat awal mulai mengembangkan kerajinan tenun, Suarba juga sempat memproduksi kain songket. Namun karena permintaan kain endek lebih banyak kini ia mulai fokus untuk memproduksi endek. Tapi, jika ada pesanan kain songket dengan jumlah tertentu tetap bisa dibuatkan.

"Sejak dulu saya suka kain dan kerajinan sehingga memutuskan untuk mengembangkan kerajinan tenun. Selain itu, saya juga ingin tetap melestarikan kain endek khas Sidemen sebagai bagian dari budaya Bali," ujar Suarba.

ADVERTISEMENT

Sejak awal proses pembuatan kain endek khas Sidemen tersebut ia mengaku dilakukan secara tradisional. Hal tersebut juga masih dipertahankan hingga saat ini, karena jika menggunakan mesin bukan tenun tradisional lagi namanya dan bisa menghilangkan identitas tenun endek Sidemen itu sendiri.

"Jadi, saya tetap mempertahankan alat tenun tradisional sebagai bentuk identitas," ucap Suarba.

Proses pembuatan kain endek khas Sidemen di Tenun Trisna Endek Sidemen, Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Minggu (7/6/2026) (foto: I Wayan Selamat Juniasa/detikBali)Kain endek khas Sidemen di Tenun Trisna Endek Sidemen, Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Minggu (7/6/2026) (foto: I Wayan Selamat Juniasa/detikBali)

Dalam proses produksinya, pembuatan kain endek khas Sidemen membutuhkan waktu cukup lama. Dari tahap awal hingga selesai bisa mencapai sekitar satu bulan. Proses tersebut mencakup pengolahan benang hingga pencetakan motif, sebelum akhirnya masuk tahap penenunan.

"Kalau menenun saja sekitar 1,5 hari sudah selesai, tapi kalau secara keseluruhan prosesnya bisa sampai satu bulan," jelas Suarba.

Untuk harga satu kain endek produksi Tenun Trisna dibanderol mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu per lembar. Harganya tergantung motif, bahan dan tingkat kesulitan pengerjaan. Dalam sebulan, penjualan rata-rata mencapai sekitar 100 lembar kain dan dapat meningkat saat menerima pesanan dalam jumlah besar.

"Selain ada yang datang untuk beli satuan, ada juga pelanggan yang beli dalam jumlah banyak biasanya digunakan untuk seragam kantor seperti instansi pemerintah, guru dan yang lainnya," kata Suarba.

Kini, Tenun Trisna Endek Sidemen tidak hanya fokus pada pembuatan kain endek saja, tapi juga telah merambah ke sektor pariwisata. Bermula dari 2015 lalu, dimana ada salah satu travel agent yang membawa sekitar 50 orang wisatawan asing melihat proses pembuatan kain endek khas Sidemen secara tradisional.

Sejak saat itu, beberapa travel agent bergiliran datang sambil membawa puluhan wisatawan dan terus bertahan hingga saat ini. Bahkan kini, Tenun Trisna Endek Sidemen menjadi salah satu bagian dari paket wisata di kawasan Sidemen. Para wisatawan yang datang biasanya diajak melihat proses pembuatan kain, mengenal arsitektur rumah Bali, hingga mendapatkan penjelasan lengkap tentang kain endek.

"Biasanya para wisatawan yang datang ke Sidemen sebelum melakukan tracking atau kegiatan lain, diajak ke sini dulu oleh travel untuk melihat proses tenun endek," ucap Suarba.

Untuk ke depannya, ia berharap usahanya dapat terus berkembang, khususnya di sektor pariwisata. Ia ingin Tenun Trisna Endek menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang memperkenalkan proses pembuatan kain endek tradisional kepada masyarakat luas.

"Harapan saya supaya bisa terus berkembang dan dikenal sebagai salah satu destinasi wisata tradisional pembuatan tenun endek khas Sidemen," pungkasnya.




(nor/nor)










Hide Ads