Sebanyak 48 pelajar Indonesia peserta program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) 2025-2026 resmi kembali ke Tanah Air setelah menjalani program pertukaran pelajar selama 10 bulan di Amerika Serikat.
YES merupakan program beasiswa pertukaran pelajar yang didanai Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri AS. Program ini memberikan kesempatan kepada siswa sekolah menengah untuk tinggal bersama keluarga angkat (host family), bersekolah di sekolah negeri Amerika, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.
Menariknya, peserta program ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, dengan latar belakang sekolah yang beragam, mulai dari SMA, SMK, madrasah hingga pesantren.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Dewan Yayasan Bina Antarbudaya Asmir Agoes mengatakan program YES mempertemukan pelajar Indonesia dengan masyarakat Amerika Serikat sehingga mampu memperkuat kebersamaan antardaerah di Indonesia.
"Kami memiliki 20 chapter di seluruh Indonesia yang mencakup wilayah Indonesia barat dan timur," ujar Asmir dalam acara penyambutan kepulangan peserta YES 2025-2026 di Hotel Gren Alia Jakarta, Senin (8/6/2026).
Rekrut Peserta dari Berbagai Daerah
Program Manager Bina Antarbudaya Sari Tjakrawiralaksana menjelaskan peserta YES direkrut melalui proses seleksi nasional yang melibatkan siswa SMA, SMK, madrasah, hingga pesantren dari seluruh Indonesia.
Menurutnya, Bina Antarbudaya memanfaatkan jaringan 20 chapter yang tersebar di berbagai daerah untuk menjangkau calon peserta. Sosialisasi dilakukan melalui sekolah, media sosial, webinar, hingga jaringan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia.
"Jadi kita punya alumni itu berasal dari Aceh sampai dari Papua itu ada, jadi mereka juga berperan besar, 1650 orang ini, mereka lah yang kemudian jadi menyiarkan," kata Sar.
Ia mengatakan proses seleksi juga memperhatikan representasi daerah dalam proses seleksi agar peserta yang terpilih tidak hanya berasal dari kota-kota besar.
"Kita kan pengennya representasi dari minimal 20 chapter di Indonesia itu represented gitu," ujarnya.
Libatkan Beragam Sekolah
Program YES terbuka bagi siswa SMA dan sederajat, termasuk SMK, madrasah, dan pesantren. Selama lebih dari dua dekade pelaksanaannya, peserta Indonesia telah berasal dari berbagai jenis sekolah dan ditempatkan di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat.
Sari mengatakan program tersebut telah memberangkatkan peserta dari berbagai latar belakang pendidikan.
"Jadi kita sudah memberangkatkan siswa-siswa dari sekolah negeri, sekolah swasta, madrasah, dan pesantren dari seluruh Indonesia," katanya.
Selama mengikuti program, para siswa umumnya bersekolah di sekolah menengah negeri atau sekolah umum (public school) di Amerika Serikat.
"Selama berada di Amerika, mereka bersekolah di sekolah umum, jadi SMA yang kita biasanya lihat di TV, di film-film, di film seri, mereka bersekolah di sekolah umum di Amerika," ujar Sari.
Alumni Jadi Inspirasi
Program YES telah berlangsung selama 23 tahun dan menghasilkan hampir 2.000 alumni di Indonesia. Para alumni tersebut berperan untuk memperkenalkan program kepada calon peserta baru serta menjadi penggerak berbagai kegiatan sosial dan pendidikan setelah kembali ke daerah masing-masing.
Sari mengatakan setiap tahun jumlah pendaftar program YES mencapai sekitar 7.000 orang dari seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 100 finalis yang mengikuti seleksi nasional sebelum dipilih sekitar 50 hingga 80 penerima beasiswa.
Setelah kembali ke Indonesia, para alumni diharapkan membagikan pengalaman yang diperoleh selama tinggal di Amerika Serikat kepada lingkungan sekitar.
"Mereka diharapkan balik lagi ke sekolahnya masing-masing, minimal mereka bisa menyebarkan pengalaman yang mereka peroleh selama program, dan menjadikan inspirasi juga buat temen-temennya, buat adik kelasnya," ujarnya.










































