Pakar menyebut bahwa memiliki sahabat sejati ternyata berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik. Pada gilirannya, terkoneksi dengan orang lain bisa terhindar dari stres.
Ahli saraf, Ben Rein, mengatakan bahwa memiliki seseorang di sekitar kita ternyata tidak hanya memberi efek menyenangkan. Lebih dari itu, dapat meningkatkan pemulihan dari stroke, kanker, dan serangan jantung.
Kondisi ini terkait dengan bagaimana tubuh merespons kesepian dan keterhubungan sosial. Dalam hal ini, kesepian telah dikaitkan dengan dampak buruk terhadap kesehatan, sedangkan terhubung dengan orang lain berdampak sebaliknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Punya Sahabat Tak Hanya Bermanfaat untuk Kebutuhan Emosional
Saat manusia kesepian, ada potensi bahaya yakni kondisi stres. Menurutnya, respons stres tersebut menyebabkan tubuh melepaskan kortisol.
"Ketika Anda mengalami respons stres kronis jangka panjang ini, hal itu dapat menyebabkan penumpukan peradangan," ujar Rein, dikutip dari The Guardian.
Peradangan adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap cedera, penyakit, dan stresor lainnya. Hal ini dapat menjadi masalah jika terlalu berkepanjangan atau muncul dalam konteks yang salah.
Dalam bukunya Why Brains Need Friends: The Neuroscience of Social Connection, Rein menjelaskan bahwa koneksi dengan orang lain bukan sekadar kebutuhan emosional, tetapi juga biologis.
la menyoroti berbagai riset, salah satunya studi pada hewan yang menunjukkan individu yang hidup sendiri setelah stroke lebih sulit pulih dan memiliki risiko kematian lebih tinggi dibanding mereka yang hidup berkelompok.
"Ini mengerikan, tapi juga menarik untuk dipahami secara ilmiah," ujar Rein.
Otak Kita Dirancang untuk Bersosialisasi
Menurut Rein, otak manusia memang dirancang untuk hidup bersama orang lain. Namun manusia sering kali salah menilai pengalaman bersosialisasi itu sendiri.
"Manusia sangat buruk dalam memperkirakan bagaimana perasaan mereka saat bersosialisasi," kata Rein.
Penelitian psikologi menunjukkan kita kerap meremehkan kemampuan sosial diri sendiri dan seberapa besar orang lain menyukai kita. Fenomena ini dikenal sebagai liking gap.
Akibatnya, banyak orang memilih menarik diri, padahal interaksi sosial hampir selalu terasa lebih menyenangkan daripada yang dibayangkan sebelumnya. Rein menekankan bahwa interaksi tatap muka memberi dampak yang lebih kuat dibanding komunikasi daring.
Saat bertemu langsung, otak menerima berbagai sinyal sosial seperti ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh, dan kontak mata yang memperkuat rasa koneksi. Sebaliknya, interaksi online sering dikaitkan dengan rasa cemas dan kesepian.
Interaksi sosial yang hangat membantu tubuh menekan stres dan memperkuat proses pemulihan alami melalui pelepasan hormon ikatan sosial seperti oksitosin. Karena itu, Rein mendorong orang untuk memilih interaksi yang lebih bermakna.
"Jika Anda akan mengirim pesan teks, telepon. Jika akan menelepon, video call. Atau lebih baik lagi, bertemu langsung," sarannya.
Rein menegaskan bahwa manfaat bersosialisasi dirasakan semua orang, baik introvert maupun ekstrovert. Ia berpendapat, memiliki sahabat sejati atau komunitas yang mendukung tidak hanya memberi rasa bahagia, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan dan berpotensi memperpanjang umur.
"Bersosialisasi itu seperti vitamin D atau tidur cukup, penting untuk kesehatan dan kesejahteraan kita," tutupnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(crt/faz)











































