BRIN Ungkap Lubang Raksasa di Aceh Bukan Sinkhole, Lantas Apa?

ADVERTISEMENT

BRIN Ungkap Lubang Raksasa di Aceh Bukan Sinkhole, Lantas Apa?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Minggu, 22 Feb 2026 08:00 WIB
Foto udara kondisi perkebunan milik warga yang amblas di jalan lintas Kecamatan Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (30/1/2026). ANTARA FOTO/Abiyyu/Lmo/rwa.
Foto udara kondisi perkebunan milik warga yang amblas di jalan lintas Kecamatan Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh Foto: ANTARA FOTO/Abiyyu
Jakarta -

Lubang raksasa yang tiba-tiba muncul di Aceh sempat membuat warga geger. Banyak yang menduga fenomena tersebut merupakan sinkhole, yakni lubang ambles akibat runtuhan tanah di bawah permukaan. Namun, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan dugaan tersebut keliru.

Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan fenomena lubang besar yang terus meluas di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, bukan merupakan sinkhole. Fenomena itu terjadi akibat longsoran tanah.

"Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh," kata Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, dalam keterangan resmi BRIN, dikutip Jumat (20/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adrin menjelaskan, secara geologi kawasan tersebut tidak tersusun oleh batu gamping yang lazim menjadi penyebab sinkhole, melainkan oleh endapan piroklastik aliran berupa material tufa hasil aktivitas Gunung Geurendong yang kini sudah tidak aktif. Material ini tergolong muda secara geologis dan belum mengalami pemadatan sempurna, sehingga bersifat rapuh dan mudah runtuh.

ADVERTISEMENT

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan tanah bisa terbuka selebar itu?

Peneliti melihat lembah atau ngarai kecil di kawasan tersebut sejak 2010 melalui analisis citra satelit Google Earth. Proses erosi dan longsoran memperlebar serta memanjangkan lembah itu seiring waktu hingga membentuk lubang besar seperti yang terlihat saat ini.

Faktor gempa bumi turut berkontribusi terhadap perubahan bentuk kawasan tersebut. Gempa berkekuatan magnitudo 6,2 memperlemah struktur lereng di Aceh Tengah pada 2013 sehingga meningkatkan ketidakstabilan tanah.

Hujan lebat memicu longsoran di kawasan tersebut. Air hujan menjenuhkan batuan tufa sehingga menghilangkan daya ikatnya dan menyebabkan runtuhan. Kemiringan lereng yang curam akibat longsoran sebelumnya memperparah kondisi tanah.

Air permukaan dari saluran irigasi perkebunan mempercepat proses erosi di kawasan tersebut. Air yang mengalir deras dan meresap ke dalam tanah meningkatkan kelembaban lapisan tufa sehingga memperbesar risiko runtuhan.

"Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil," ujar Tohari.


Proses Terbentuknya Lubang Raksasa

Adrin menjelaskan fenomena tersebut merupakan proses alami yang berlangsung puluhan hingga ratusan tahun. Gempa dan hujan hanya mempercepat pembentukan lembah atau ngarai tersebut.

la mengemukakan hipotesis adanya aliran air tanah di batas antara lapisan aliran lahar yang padat di dasar tebing dan batu tufa yang rapuh di bagian atasnya. Aliran air tanah menggerus kaki lereng sehingga menyebabkan bagian atas kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap.

la juga menyatakan bahwa kondisi serupa terdapat di wilayah lain yang memiliki karakter batuan gunung api muda. Salah satu contohnya adalah Ngarai Sianok di Sumatera Barat. Proses geologi jangka panjang yang berkaitan dengan aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatera membentuk kawasan tersebut.


BRIN Dorong Penelitian Lanjutan dan Mitigasi


Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) belum melakukan penelitian lapangan secara langsung di Aceh Tengah. Saat ini, peneliti masih menganalisis data citra serta informasi publik untuk mengkaji kasus tersebut.

Adrin menyatakan kajian komprehensif diperlukan guna memastikan penyebabnya secara lebih detail. "Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif," jelasnya.

la menambahkan bahwa studi lanjutan dapat dilakukan menggunakan metode geofisika seperti survei geolistrik, seismik refleksi, dan microtremor. Metode tersebut bertujuan mengetahui struktur bawah permukaan serta potensi rekahan yang memicu longsor.

Selain itu, Adrin menekankan pentingnya langkah mitigasi. Pengendalian air permukaan agar tidak meresap ke dalam tanah menjadi salah satu upaya utama. Penetapan zona bahaya dan pemasangan sistem peringatan dini longsor juga perlu dilakukan.

la mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tanda-tanda awal seperti retakan tanah atau amblesan kecil.

"Peta kerentanan gerakan tanah sebenarnya sudah ada, tetapi perlu diperbarui setelah kejadian ini agar lebih akurat dan operasional. Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari," pungkasnya

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video : BRIN Sebut Lubang Besar yang Muncul di Aceh Bukan Sinkhole!"
[Gambas:Video 20detik]
(crt/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads