Penelitian internasional yang dipimpin oleh tim dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan adanya ketimpangan besar dalam jumlah pepohonan di berbagai kota dunia.
Dijelaskan dalam laman resmi MIT, wilayah yang lebih kaya cenderung memiliki lebih banyak pohon peneduh di sekitar jalan, sementara kawasan berpenghasilan rendah sering kali kekurangan tutupan hijau.
Hasil riset ini menunjukkan ketimpangan tersebut memperparah efek "pulau panas perkotaan" (urban heat island) atau kondisi ketika daerah perkotaan menjadi jauh lebih panas dibandingkan daerah sekitarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daerah Kaya Lebih Teduh, Daerah Miskin Lebih Panas
Menurut peneliti MIT, Fabio Duarte, banyak atau sedikitnya pohon di suatu wilayah bisa menunjukkan lapisan sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di sana.
"Dari area yang teduh saja, kita bisa tahu di mana orang kaya dan orang miskin tinggal," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pohon adalah cara paling sederhana untuk menurunkan suhu di kota, tetapi manfaat ini tidak dirasakan secara merata.
Penelitian ini melibatkan sembilan kota di empat benua, seperti Amsterdam, Barcelona, Boston, Rio de Janeiro, dan Sydney. Hasilnya menunjukkan di kota mana pun, baik yang punya banyak pepohonan maupun yang tidak, daerah kaya tetap memiliki lebih banyak pohon.
Duarte mencontohkan, bahkan di Stockholm yang dikenal sejuk, kesenjangan antara daerah kaya dan miskin dalam hal jumlah pohon justru lebih besar dibandingkan di Belem, Brasil. Artinya, ketimpangan tidak dapat terjadi di kota miskin dan juga di kota maju.
Tanam Pohon di Jalur Transportasi Umum sebagai Solusi
Untuk mengatasi ketimpangan ini, para peneliti menyarankan agar penanaman pohon difokuskan di sekitar jalur transportasi umum.
"Di setiap kota, dari Sydney sampai Rio, selalu ada orang yang harus berjalan kaki dan menggunakan bus. Jadi, kalau ingin menambah pohon, ikuti jalur transportasi," kata Duarte.
Peneliti lain, Lukas Beuster, menambahkan bahwa pohon tidak hanya mempercantik kota, tetapi memiliki fungsi penting, yaitu memberikan keteduhan yang melindungi warga dari panas ekstrem .
"Dengan suhu yang terus meningkat, menyediakan tempat teduh seharusnya menjadi hak publik, sama pentingnya dengan menyediakan transportasi," tegas Beuster.
(nah/nah)










































