Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil temukan dan identifikasi satu spesies baru keong darat. Dinamakan dengan keong darat Chamalycaeus dayangmerindu, spesies ini disebut hanya ditemukan di Sumatera Selatan.
Pengidentifikasian keong darat C. dayangmerindu dilakukan oleh Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Ayu Savitri Nurinsiyah. Ia menyebut untuk akhirnya dinyatakan menjadi spesies baru, ada tahapan ilmiah panjang yang harus dilalui.
Tahapan ini dimulai dari proses ekspedisi dan eksplorasi di lapangan. Setelah spesimen ditemukan, terjadi proses telaah morfologi, anatomi atau genetika, komparasi dengan spesies yang sudah ada, proses penelaahan para ahli dunia, dan harus dipublikasikan di jurnal ilmiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Publikasi jurnal ilmiah juga tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Kehadirannya harus dilakukan pada jurnal ilmiah yang diakui secara internasional.
"Meski panjang dan penuh tantangan, saya percaya setiap proses dalam perjalanan ini akan selalu bermakna dan bermanfaat," tutur Ayu dikutip dari laman resmi BRIN, Selasa (10/3/2026).
Ditemukan 2021, Baru Dipublikasikan 2026
Tahapan dan jalan yang panjang ini juga dirasakan keong darat C. dayangmerindu. Pengambilan sampel spesies tersebut ternyata sudah dilakukan sejak 2021.
Kehadirannya menjadi bagian dari Ekspedisi Karakterisasi dan Valuasi Kawasan Ekosistem Esensial: Karst di Sumatra, Indonesia. Setelah ditemukan seluruh proses tahapan ilmiah dilakukan hingga 2025 dan berujung pada publikasi di 2026.
Studi yang dilakukan Ayu juga hasil kolaborasi dengan beberapa pihak, seperti Universitas Negeri Surabaya dan Széchenyi István University, Hungaria. Hasil studi menyatakan spesies Chamalycaeus dayangmerindu hanya ditemukan di kawasan karst Padang Bindu, Sumatra Selatan.
Kondisi ini, menjadikannya rentan terhadap perubahan lingkungan, alih fungsi lahan, dan degradasi habitat. Untuk itu, publikasi kehadirannya menjadi langkah awal yang penting dalam upaya konservasi.
Libatkan Peneliti Muda
Satu hal yang menarik dari studi yang dilakukan Ayu adalah pelibatan peneliti muda Indonesia sebagai penulis. Ia adalah Latifah Nurul Aulia.
Ayu menjelaskan Latifah awalnya mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya yang melakukan penelitian di BRIN. Latifah bergabung di BRIN sejak menjadi mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Ia kemudian melanjutkan tugas akhirnya dengan program Bantuan Riset bagi Talenta Riset dan Inovasi (BARISTA) BRIN. Kehadiran Latifah sangat diapresiasi Ayu, karena menurutnya sulit menemukan generasi penerus dalam bidang yang ia geluti.
"Tidak mudah mencari generasi penerus dalam bidang taksonomi dan biosistematika, lebih lagi di taksa keong. Semoga akan lebih banyak lagi generasi muda yang curious dan peduli terhadap pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia", harap Ayu.
Kini, hasil penelitian Ayu dkk, dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Terindeks Global Bereputasi Tinggi (Q1)ZooKeys 1272: 1-31 (2026). Studi tersebut hadir dengan judul Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatra, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.
Melalui studi tersebut, tim peneliti BRIN berharap dapat terus mengeksplorasi dan mengkaji biodiversitas Indonesia, khususnya kelompok moluska darat. Ini juga menjadi upaya pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.
(det/nah)










































