Kasus Bunuh Diri Anak di RI Tertinggi di Asia Tenggara, Pakar IPB Ungkap Hal Ini

ADVERTISEMENT

Kasus Bunuh Diri Anak di RI Tertinggi di Asia Tenggara, Pakar IPB Ungkap Hal Ini

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Minggu, 15 Mar 2026 18:00 WIB
ilustrasi bunuh diri
Foto: berbuatbaik.id/ilustrasi kasus bunuh diri anak
Jakarta -

Kasus bunuh diri anak menjadi perhatian serius di Indonesia. Pada 2026, sudah ada empat anak yang meninggal terkait kasus bunuh diri. Apa penyebabnya?

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan, kasus bunuh diri anak selalu di atas 20 per tahun. Pada 2023 tercatat 46 kasus, pada 2024 ada 43 kasus, dan pada 2025 ada 26 kasus. Data ini menjadikan Indonesia memiliki kasus bunuh diri anak tertinggi di Asia Tenggara.

Sementara untuk 2026, Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin menyebut, setidaknya ada 4 kasus bunuh diri pada anak. Kasus terjadi di NTT, Jawa Barat, hingga Kalimantan Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam tahun 2026 ini sudah ada 4 orang yang meninggal. Empat anak yang meninggal itu ada di NTT, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur," ujar Menkes, dilansir dari detikHealth, Minggu (15/3/2026).

Kondisi yang memprihatinkan ini juga menjadi perhatian Pakar Pengasuhan Anak IPB University, Prof Dwi Hastuti. Ia mengatakan, tindakan bunuh diri bisa dicegah dengan kedekatan emosional yang dibangun orang tua kepada anaknya.

ADVERTISEMENT

"Pada usia prasekolah, kedekatan anak biasanya lebih kuat dengan ibu. Sementara saat memasuki usia sekolah hingga remaja, kedekatan dengan ayah juga menjadi penting. Namun, kedekatan tersebut hanya dapat terbangun apabila terdapat interaksi yang cukup sejak masa kanak-kanak," jelasnya, dikutip dari laman resmi IPB, Minggu (15/3/2026).

Apa Penyebab Anak Bunuh Diri?

Menurut Prof Dwi, anak yang melakukan bunuh diri umumnya karena putus asa dan hilang harapan. Ketika anak putus asa, akan lebih mudah mengalami depresi, frustrasi, dan stres.

Hal yang menjadi masalah yaitu orang tua kurang peka terhadap ciri-ciri yang mengarah pada gejala stres, sampai akhirnya menjadi lebih serius. Padahal, seharusnya pengawasan orang tua menjadi filter utama.

Tak jarang, ketidakpekaan ini yang memperparah stres anak. Pasalnya, hubungan internal keluarga juga menjadi faktor pemicu stres pada anak.

Selain itu, ada faktor lain seperti pertemanan di sekolah, lingkungan sosial, dan mungkin pada lingkup organisasi. Hal ini diperparah dengan konten media sosial yang kerap membuat anak tertekan secara psikologis.

"Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa pengawasan orang tua dan komunikasi yang baik dalam keluarga, maka dapat memicu kecemasan, kegelisahan, bahkan kebencian terhadap diri sendiri," ungkap Prof Dwi.

Pentingnya Peran Orang Tua

Guru Besar di Bidang Ilmu Pengasuhan Anak itu menekankan, perlu adanya jalinan kedekatan anak dengan orang tua untuk menumbuhkan kepercayaan, terutama ibu. Saat anak mulai percaya, ia akan lebih mudah untuk mengutarakan perasaan sedih, kecewa, gelisah, dan kesulitan apa pun yang mereka hadapi.

Selain orang tua, peran guru dan teman di sekolah juga sama pentingnya untuk mencegah tindakan bunuh diri. Ia menegaskan, pentingnya menyampaikan ciri-ciri saat anak mulai menyimpang. Syaratnya, jangan sampai menyinggung, atau merendahkan harga diri anak.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

Prof Dwi mengatakan langkah pencegahan bisa dimulai dari hal paling dasar di sekolah, yaitu budaya saling peduli dan gotong royong. Karena, lingkungan pendidikan sudah seharusnya menjadi tempat belajar untuk saling mendukung satu sama lain.

Selain itu, keterlibatan masyarakat juga tidak kalah penting. Itu karena, lingkungan juga memengaruhi tumbuh kembang anak-anak.

"Dibutuhkan kepedulian bersama karena membesarkan anak memerlukan dukungan lingkungan," ujarnya.

Menurutnya, peningkatan pendidikan keluarga dan program parenting, dapat membantu orang tua menerapkan pola asuh yang baik. Selanjutnya, orang tua juga perlu mengawasi aktivitas anak di media sosial dengan membatasi penggunaan ponsel.

"Anak juga perlu diajak memahami realitas sosial di masyarakat, termasuk melihat kondisi kelompok yang kurang beruntung. Ini bisa menumbuhkan empati yang kuat dan membantu membangun karakter anak yang lebih tangguh," pungkasnya.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(faz/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads