Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut ke Pulau Kharg di Iran. Ia juga mendesak sekutu untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz.
Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat menyerang fasilitas minyak mentah di Pulau Kharg jika Iran terus menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Pulau ini memang merupakan salah satu titik ekonomi Iran yang paling penting. Di mana lokasinya dan mengapa begitu penting untuk Iran?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasi Pulau Kharg
Pulau Kharg merupakan pulau karang sepanjang lima mil atau kurang lebih 8 km. Lokasinya sekitar 15 mil dari pantai daratan Iran di Teluk Persia utara.
Dikutip dari CNBC International, Pulau Kharg memiliki fasilitas terminal minyak tempat pengiriman sekitar 90% ekspor minyak mentah negara Iran. Terminal ini memiliki kapasitas muat sekitar 7 juta barel per hari yang menjadikannya salah satu pusat ekspor minyak paling strategis di kawasan Teluk. Inilah yang menjadikannya sangat krusial bagi pendapatan energi Teheran.
Kapal tanker berukuran sangat besar yang mampu mengangkut hingga 85 juta galon minyak, bisa berlabuh di dermaga panjang pulau ini untuk mengambil minyak. Dikutip dari BBC, pantai Pulau Kharg cukup dekat dengan perairan dalam, tidak seperti pantai daratan yang lebih dangkal.
Kapal tanker di sana juga akan menyusuri kawasan Teluk dan keluar dari Selat Hormuz, menuju China. Sebagai terminal ekspor minyak Iran, Pulau Kharg menyediakan sumber pendapatan utama bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Apa Akibatnya Jika Pulau Kharg Dihancurkan?
Aksi militer untuk menghancurkan infrastruktur di Pulau Kharg tentunya akan sangat merugikan Iran. Namun, skenario semacam ini juga akan menyebabkan eskalasi konflik yang signifikan.
Kemungkinan besar, jika infrastruktur di pulau ini rusak, maka harga minyak global melonjak lebih tinggi.
Berdasarkan data dari JPMorgan, serangan langsung terhadap terminal ekspor Iran di Pulau Kharg akan langsung menghentikan sebagian besar ekspor minyak mentahnya yang mencapai 1,5 juta barel per hari.
"Kerusakan infrastruktur minyaknya akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun kembali, sehingga negara tersebut akan kehilangan sumber pendapatan terpentingnya," kata pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, kembali dikutip dari CNBC International.
(nah/pal)











































