Universitas Cambridge Hadirkan Tanaman yang Bisa Diajak Ngobrol, Kok Bisa?

ADVERTISEMENT

Universitas Cambridge Hadirkan Tanaman yang Bisa Diajak Ngobrol, Kok Bisa?

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Selasa, 17 Mar 2026 19:30 WIB
Tim Kebun Raya Universitas Cambridge (CUBG) di balik Talking Plants
Foto: Cambridge University/Tim Kebun Raya Universitas Cambridge (CUBG) di balik Talking Plants
Jakarta -

Bayangkan kamu sedang berjalan di taman dan tiba-tiba sebuah tanaman menyapamu, menjawab pertanyaanmu, bahkan melempar candaan. Kedengarannya seperti cerita fantasi? Ternyata ini benar-benar terjadi di Kebun Raya kampus Cambridge atau Cambridge University Botanic Garden (CUBG), Inggris.

Eksperimen ini disebut dengan Talking Plants (tanaman berbicara) untuk menghadirkan pengalaman percakapan pengunjung dengan tanaman. Hal ini bisa terwujud berkat kecerdasan buatan atau AI.

Bagaimana Cara Pengunjung Berbicara dengan Tanaman?

Untuk bisa merasakan pengalaman berbicara dengan tanaman, pengunjung cukup memindai kode QR lewat ponsel. Setelah itu, pengunjung bisa bertanya apa saja dengan 20 spesimen langka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertanyaan bisa diajukan mulai dari "Bagaimana rasanya diserbuki kelelawar?" sampai "Apakah manusia membantu kehidupanmu atau justru mengganggu?"

Proyek ini menjadi hiburan sekaligus eksperimen ilmiah yang memadukan AI, biologi, dan edukasi lingkungan. Melalui percakapan dua arah, pengunjung bisa mengenal keunikan tiap spesies tanaman dengan cara yang lebih personal dan menyenangkan.

ADVERTISEMENT

Menurut Kurator CUBG sekaligus Profesor Evolusi di Cambridge University, Prof Sam Brockington, pameran ini dirancang agar semua orang bisa merasa dekat dengan alam.

"Talking Plants adalah cara menyenangkan untuk memahami biologi dan budaya tanaman. Kami ingin membantu pengunjung belajar bukan hanya tentang alam, tetapi juga dari dan bersama alam," jelasnya, dikutip dari laman resmi Cambridge University.

Setiap Tanaman Punya Kepribadian Sendiri

Dalam pameran ini, setiap tanaman langka di rumah kaca Cambridge punya karakter unik. Ada "Jade" si anggur tropis yang genit dan penuh energi, "Tumbo" si welwitschia yang kering tetapi cerdas, serta "Titus Junior" si bunga bangkai raksasa yang terkenal karena aromanya yang "menggugah" dan kepribadiannya yang dramatis.

Tak ketinggalan St Helena Ebony, digambarkan sebagai sosok anggun yang kuat, penyintas dari pulau kecil di Samudra Atlantik. Dengan bantuan AI, setiap tanaman ini bisa menjawab pertanyaan, bercerita tentang asal-usulnya, hingga mengajak pengunjung bermain kuis atau meditasi singkat.

Setiap percakapan diukur dampak lingkungannya. Hasilnya adalah rata-rata hanya menghasilkan 14 gram CO₂, setara dengan mengirim satu surel berlampiran dan menjalankan seluruh sistem dengan server berbasis energi terbarukan.

CEO Nature Perspectives, Gal Zanir, menjelaskan bahwa proyek ini ingin mengubah cara kita berinteraksi dengan alam.

"Biasanya kita hanya mengamati alam dari jauh. Lewat proyek ini, kami ingin mengubahnya jadi percakapan dua arah, lebih imajinatif dan penuh rasa ingin tahu," ujarnya.

Selain jadi daya tarik bagi pengunjung, proyek Talking Plants juga membantu tim peneliti Cambridge mengeksplorasi bagaimana teknologi digital bisa digunakan untuk memperdalam pemahaman terhadap keanekaragaman hayati. Kehadiran Talking Plants sendiri berlangsung dari 11 Februari hingga 12 April 2026.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.




(rhr/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads