Riset: Kurangnya Unsur Religi dalam Kehidupan Anak Picu Risiko Gangguan Kecemasan

ADVERTISEMENT

Riset: Kurangnya Unsur Religi dalam Kehidupan Anak Picu Risiko Gangguan Kecemasan

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 24 Mar 2026 15:00 WIB
Anak-anak membaca Iqra saat mengikuti Pesantren Kilat Ramadhan di Masjid Jami Zainuddin MZ, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Pesantren kilat tersebut dilaksanakan sebagai kegiatan mengisi waktu bagi anak-anak pada bulan suci Ramadhan dengan memperdalam il
Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto/Anak-anak membaca Iqra saat mengikuti Pesantren Kilat Ramadhan di Masjid Jami' Zainuddin MZ, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Jakarta -

Gangguan kecemasan semakin meningkat di kalangan kaum muda. Fenomena tersebut berkaitan dengan perubahan harapan dan nilai-nilai masyarakat dalam pendidikan.

Para peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengobatan Kesehatan Mental (FBZ) di Universitas Ruhr Bochum, Jerman, telah menganalisis hal ini. Peneliti juga menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap agama memainkan peran kunci dalam menjaga kesehatan mental anak-anak dan remaja.

Gangguan Kecemasan Meningkat pada Negara yang Makin Tidak Religius

Negara-negara di mana religiusitas telah kehilangan signifikansinya, menunjukkan peningkatan yang relatif tinggi dalam gangguan kecemasan. Data tersebut dilaporkan dalam jurnal Developmental Science Volume 29 Issue 3 pada 11 Februari 2026 dengan judul "Global Cultural Change and Anxiety in Children and Adolescents: Analyzing Specialization Goals Over Three Decades in 70 Countries".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam penelitian ini para ilmuwan menganalisis data dari 70 negara di seluruh benua. Mereka mengamati perkembangan selama tiga dekade terakhir dari 1989 hingga 2022. Dasar analisisnya adalah data kesehatan tentang prevalensi gangguan kecemasan pada anak kecil, anak-anak, dan remaja di negara-negara tersebut.

ADVERTISEMENT

Data budaya dari World Values Survey juga disertakan. Jaringan ilmu sosial global ini berfokus pada pergeseran nilai-nilai budaya dan dampaknya terhadap kehidupan politik dan sosial.

"Standar sosial tentang bagaimana anak-anak seharusnya berperilaku telah berubah secara signifikan di seluruh dunia dari waktu ke waktu," kata penulis utama studi tersebut, Leonard Kulisch, dikutip dari Phys.org.

"Karena itu, kami ingin mengetahui apakah pola harapan yang berubah ini berkorelasi dengan peningkatan gangguan kecemasan," imbuhnya.

Tidak seperti sebelumnya, nilai-nilai seperti kepatuhan memainkan peran sekunder dalam pendidikan di negara-negara Barat, menurut studi tersebut. Aspek yang lebih diinginkan saat ini adalah mendorong kemandirian dan individualitas anak-anak.

Analisis menunjukkan pergeseran perspektif Barat ini dapat memicu perkembangan kecemasan pada anak-anak dan remaja di negara-negara tersebut.

Perlu Cara Alternatif untuk Menumbuhkan Rasa Komunal

Sementara itu, di seluruh benua, penurunan religiusitas dalam pengasuhan anak merupakan faktor risiko paling signifikan untuk gangguan kecemasan.

Menurut Kulisch, hal ini bisa jadi karena religiusitas menumbuhkan rasa kebersamaan dan memberikan bimbingan untuk kehidupan seseorang. Hilangnya agama secara bertahap sebagai suatu sumber daya dapat meninggalkan rasa kekosongan.

Kulisch menyebut para keluarga menjadi lebih kesepian, memiliki jaringan sosial yang kurang stabil, dan rutinitas sehari-hari menghilang. Penelitian ini memberikan referensi penting bagi orang tua dan sikap sosial.

"Individualitas dan kemandirian bermanfaat dalam sistem ekonomi yang ada untuk tetap kompetitif dan mendorong inovasi," kata Kulisch.

"Namun di negara-negara Barat, nilai-nilai ini telah melampaui ambang batas yang sehat," imbuhnya.

Agama sebagai sumber komunitas dan makna dalam pendidikan, menurut Kulisch, kehilangan urgensinya di banyak tempat. Maka semakin penting untuk memperkuat cara alternatif dalam menumbuhkan faktor-faktor pelindung kesehatan mental ini pada anak-anak.

"Aktivitas di klub dan kelompok, serta keterlibatan dalam kegiatan sipil dapat menjadi faktor penting dalam menangkal perkembangan gangguan kecemasan," ujarnya.

Menurutnya, pusat penitipan anak dan sekolah harus berupaya secara khusus untuk mendorong rasa komunal di antara anak-anak dan remaja.




(nah/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads