Pakar Hukum Universitas Indonesia (UI), Prof Heru Susetyo, mengungkapkan proses radikalisasi dapat dimulai dari usia bayi. Namun, kecenderungannya akan mengental saat anak berada di bangku SD dan SMP.
"Orang itu bisa radikal dari bayi, bahkan ketika orang tuanya radikal atau keluarga dia radikal, itu bisa jadi sejak kecil dia sudah terancam mempelajariradikalisasi," tutur ProfHeru kepadadetikEdu, Senin (30/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Heru mencontohkan, orang tua bisa melarang anak hormat ke Bendera Merah Putih atau menghormati Pancasila sejak bayi. Jika lingkungan anak saat besar nanti tidak berubah, potensi radikal akan selalu muncul.
"Tapi nggak semua yang radikal terus jadi ekstremis, nggak juga. Tergantung situasinya, kebutuhannya, dan jika ada trigger-nya apa nggak. Tapi proses itu dibangun memang bisa sejak bayi. Tapi itu kemudian mengental ketika SD-SMP," tuturnya.
Alasan Radikalisasi Paling Terlihat saat SD dan SMP
Saat berada di bangku sekolah, Heru menuturkan, radikalisasi biasanya disebabkan karena salah memilih teman atau ada kultus individual. Kultus ini terjadi saat suatu individu senior dihormati karena pengetahuannya dan bisa mempengaruhi orang lain. Individu ini nantinya akan memberikan makanan, perhatian, dan kepercayaan kepada pengikutnya.
"Sangat dihormati, dihargai, disegani, karena keluasan pengetahuan agamanya, ada perhatian juga sama mereka, ada jaga makan, ada jaga kemana-mana, kemudian akhirnya ada social bonding. Social bonding, saling percaya, pemakluman, disalahgunakan kepercayaan tersebut," jelasnya.
Namun, Heru menekankan, tidak semua orang akan ikut menjadi radikal. Ada yang hanya ikut berkumpul saja.
Radikalisasi Lewat Media Sosial
Doktor bidang hak asasi manusia (HAM) dan studi perdamaian itu mengatakan media sosial Telegram paling banyak menyumbangradikalisasi. Salah satu kampanye lewat Telegram adalah kampanye untuk bergabung ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di tahun 2000.
Kampanye tersebut menjanjikan kehidupan surga di Bumi dan akhirat. Mereka juga menjanjikan hidup tenang, sekolah gratis, dan kesehatan terjamin.
"Jadi itu kampanye dilakukan masif di Telegram, pakai video lah, pakai testimoni, itu membakar, itu mengagitasi masyarakat. Yang paling kena terutama anak-anak sekolah," ungkapnya.
Anak usia sekolah, menurut Heru, belum bisa membedakan mana yang baik dan benar. Untuk menghindari ini, anak perlu diberikan banyak bacaan dan literasi digital.
"Masalahnya nggak semua orang punya akses yang bagus kepada pengetahuan yang luas," ujarHeru.
Berdasarkan studi yang dilakukan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Heru mengatakan kurang lebih ada 2% remaja yang terpapar radikalisasi.
"Kekerasannya tidak hanya terorisme ya, termasuk geng motor juga. Tawuran juga ternyata sekarang terjadinya lewat sosial media, terutama mereka nantang lawannya di Instagram sama di Facebook," ujarnya.
(nir/twu)










































