United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), organisasi PBB yang membawahi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, turun tangan membantu Palestina merombak kurikulum pendidikannya. Perombakan ini dilakukan agar kurikulum yang baru agar berfondasi pada nilai-nilai perdamaian dan hak asasi manusia.
Dilansir dari laman resmi UNESCO, organisasi tersebut menerima kunjungan delegasi spesialis kurikulum dari Palestina yang dipimpin oleh Wakil Menteri Pendidikan Palestina, Nafieh Assaf, pada 2-3 April 2026. Pertemuan intensif selama dua hari ini difokuskan untuk mendorong agenda pembaruan kurikulum pendidikan di negara tersebut. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa sistem pendidikan Palestina tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga menanamkan nilai perdamaian, hak asasi manusia, dan pembangunan berkelanjutan.
Pembaruan kurikulum ini juga penting untuk memperkuat kualitas belajar siswa. Upaya kolaboratif tersebut diharapkan mampu membawa arah baru bagi pendidikan generasi muda Palestina ke depannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Saja yang Direformasi?
Reformasi pendidikan Palestina mencakup upaya modernisasi sistem pendidikan. Kurikulum yang terakhir diperbarui pada 2017 kini ditargetkan untuk dikembangkan kembali agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembelajaran masa kini.
Pendampingan ini juga dilakukan untuk memastikan sekolah tetap menjadi ruang pembelajaran yang mendamaikan masyarakat, bukan perpecahan.
UNESCO turut menggelar lokakarya khusus untuk memperkuat kapasitas nasional dalam desain kurikulum, implementasi, pemantauan, dan evaluasi. Dalam kegiatan tersebut, para pakar UNESCO dan perwakilan Kementerian Pendidikan Palestina membahas prioritas strategis pembaruan kurikulum nasional.
Mereka menggunakan Rekomendasi 2023 tentang Pendidikan untuk Perdamaian, HAM, dan Pembangunan Berkelanjutan sebagai dasar untuk memperkuat pemahaman, kohesi sosial, dan perdamaian berkelanjutan melalui pendidikan.
Pada prosesnya, peserta menyepakati peta jalan yang mencakup pengembangan kerangka kurikulum nasional baru. Peta jalan ini juga meliputi pelatihan bagi pengembang kurikulum serta serangkaian lokakarya yang disesuaikan dengan konteks budaya dan sosial Palestina.
Selain itu, penguatan sistem penilaian dan pengembangan kapasitas guru dalam jangka menengah juga menjadi hal penting. Langkah ini bertujuan mengubah ambisi pembaruan kurikulum menjadi peningkatan pengalaman belajar yang bermakna di ruang kelas.
Keberlanjutan Belajar di Tengah Krisis Kemanusiaan
Berbagai upaya ini memperkuat kerja sama jangka panjang antara UNESCO dan Kementerian Pendidikan Palestina. Upaya ini diharapkan mampu menjaga kualitas dan keberlanjutan pendidikan bagi anak-anak, meski dalam kondisi kemanusiaan yang sangat sulit.
UNESCO juga memperbarui komitmennya untuk memperluas skala program dengan dukungan negara-negara anggota dan mitra terpercaya. Salah satu langkah terobosan yang dilakukan adalah penyelenggaraan Gaza Virtual University Campus.
Selain itu, bantuan nyata juga diberikan melalui penyediaan ruang belajar sementara, pemberian beasiswa, serta dukungan kesehatan mental dan psikososial bagi pelajar. Di Gaza, lebih dari 30.000 anak dan remaja telah merasakan manfaat program pendidikan UNESCO dalam beberapa bulan terakhir.
Penulis adalah peserta program magang Kemnaker di BeritaKlik.
(nah/nah)











































