Seorang penjelajah di Goldfields, Western Australia (WA), menemukan puing kosmik langka yang terbentuk ratusan ribu tahun lalu. Ia adalah Jim Miles yang menemukan puing meteorit itu di tempat terpencil.
Saat penemuan terjadi, Miles tengah berada di wilayah Kalgoorlie, sebuah kota di kawasan Goldfields, Australia Barat. Awalnya, Miles tengah mencari emas dengan alat detektor sekitar 150 kilometer timur laut Kalgoorlie.
Namun, alat pendeteksi emasnya justru menemukan benda hitam di tanah. Benda hitam itu kemudian diketahui sebagai puing kosmik, yakni 'australit'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Australit dijelaskan sebagai potongan kaca cair yang terbentuk ketika tumbukan meteorit terjadi. Saat tumbukan terjadi, puing-puing cair terbang ke atmosfer dan membeku hingga sampai ke Bumi.
"Ini seperti satu-satunya tempat di dunia di mana Anda menemukan jenis objek luar angkasa seperti ini, yang memiliki sejarah menakjubkan jika Anda membacanya," kata Miles, dikutip dari ABC News.
Akibat Benturan Meteorit 800 Ribu Tahun lalu
Pasca penemuan itu, Miles menghubungi Curtin University. Ia juga telah mengirimkan australit tersebut ke Pusat Sains dan Teknologi Antariksa di Perth, Australia.
Di sana, australit diteliti oleh ilmuwan planet Aaron Cavosie. Cavosie menjelaskan bila autralit terbentuk akibat tumbukan meteorit tunggal 800 ribu tahun yang lalu.
"800 ribu tahun yang lalu bukanlah waktu yang lama secara geologis, itu seperti baru terjadi tadi malam," ucapnya.
Cavosie mengatakan bentuk tektit (bantuan yang terbentuk karena hasil tumbukan meteor dan kerak Bumi) Austraasia menyerupai perisai panas. Setiap tektit juga mengembangkan perisai panasnya sendiri-sendiri.
Peneliti Australia Cari Tahu Lokasi Asli Benturan Meteorit
Kini, banyak spesimen australit disimpan di museum dan pusat penelitian. Cavosie percaya bahwa setiap spesimen masih memiliki misteri yang belum terungkap.
"Kita tahu bahwa itu adalah kaca alami yang terbentuk akibat benturan di suatu tempat, tetapi yang membingungkan adalah kita tidak tahu di mana lokasi benturan itu," bebernya.
Setiap penemuan australit ke depan akan membantu para ilmuwan menemukan lokasi benturan tersebut. Ketika hari itu Miles melaporkan temuannya, mahasiswa PhD, Sophie Deam, juga melaporkan temuan serupa.
Kejadian ini dinilai Cavosie sangatlah jarang, karena rata-rata laporan tektit yang ia terima biasanya setiap setahun atau dua tahun sekali.
"Kemungkinan dua pihak yang tidak berhubungan dan terpisah membawa tektik kepada saya pada hari yang sama, menurut saya, sangat kecil (kemungkinannya)," tandas Cavosie.
(det/faz)










































