Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi Rubber Crossing Plate (RCP), pelat perlintasan kereta api berbahan dasar karet. Inovasi ini dirancang untuk menggantikan material konvensional seperti beton dan aspal.
Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN, Ade Sholeh Hidayat menyebut material ini dapat menjadi solusi atas masalah teknis di perlintasan kereta. Contohnya permukaan yang tidak rata, licin saat hujan, dan getaran tinggi yang bisa memicu kecelakaan.
"Sehingga hal itulah yang menjadi pertimbangan bagaimana kita menciptakan satu material yang bisa memberikan solusi terhadap kita. Nah kalau kita bicara ilmu material khususnya rubber, bahwa RCP itu memang dibuat dari katakanlah hampir 90% serat karet yang dimodifikasi, dibentuk, didesain, sehingga memiliki elastisitas yang sangat baik," ujar Ade dalam acara Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BJ Habibie BRIN, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dapat Menyesuaikan dengan Kondisi Wilayah
Menurutnya, berbagai kecelakaan di perlintasan sebidang tidak hanya disebabkan faktor manusia, tapi juga kondisi infrastruktur. Dengan inovasi ini, BRIN mengembangkan material yang tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan di Indonesia.
"Dan di samping itu juga tentunya si material yang kita desain itu harus memenuhi sesesuaian kondisi Indonesia. Apa itu? Tropis, hujan, kadang kalau relnya di wilayah pantura itu dekat apa namanya wilayah air gitu," tuturnya.
Ia menjelaskan, RCP dibuat menggunakan karet alam yang telah dimodifikasi melalui formulasi khusus. Material ini memiliki elastisitas tinggi, dapat meredam getaran, dan tahan terhadap beban statis maupun dinamis.
"Dibandingkan tentunya material konvensional yang tadi. Nah sehingga karakteristik yang terpenting dari rubber crossing plate itu tentu harus memiliki elastisitas yang tinggi supaya bisa menyesuaikan terhadap beban yang ada diantara perlintasan, kemudian juga bisa menyerap vibrasi, gaya vibrasi dari kendaraan yang lewat," katanya.
Ia menambahkan, salah satu keunggulan utama RCP adalah sifat high hysteresis atau kemampuan material kembali ke bentuk semula setelah menerima tekanan beban.
"Jadi kalau kita uji ribuan cycle bahkan jutaan cycle, itu si rubber itu masih tetap memiliki sifat yang seperti semula begitu, dan itu tidak dimiliki oleh material lain," katanya.
Kurangi Risiko Kendaraan Tergelincir
BRIN mengklaim permukaan RCP yang presisi dan anti-slip dapat menciptakan lintasan lebih rata dan stabil. Dengan begini, risiko-risiko kendaraan tergelincir atau tersangkut di rel dapat dikurangi.
Sembunyikan kutipan teks
"Nah secara mekanik, karena kalau kita bicara karet, maka bukan karet yang biasa kita lihat sehari-hari, tapi karet yang sudah didesain formulanya khusus, yang bisa memiliki sifat-sifat keunggulan tertentu," tuturnya.
Ade menyebut teknologi RCP telah melalui berbagai pengujian, mulai dari uji statis, fatigue, getaran, kebisingan, hingga ketahanan terhadap sinar ultraviolet, air, dan suhu ekstrem. Dalam pengujian ribuan hingga jutaan siklus beban, material tersebut diklaim tetap mempertahankan sifat elastisnya.
"Nah ini juga sifat yang kita bisa unggulkan dari produk ini, yang tentunya tadi sudah disampaikan bahwa RCP itu lebih tahan terhadap deformasi. Jadi kalau ada beban itu, dia bisa balik lagi. Makanya disebut high hysteresis," ujarnya.
Maksimalkan Potensi Karet di RI
Lebih lanjut, Ade mengatakan pengembangan RCP juga memiliki nilai strategis karena dapat mendorong hilirisasi karet alam domestik. Hal ini mengingat kekayaan karet di Indonesia sangat melimpah.
Menurutnya, apabila diterapkan secara luas oleh PT Kereta Api Indonesia, teknologi tersebut berpotensi menjadi standar baru infrastruktur perlintasan sebidang di Indonesia.
"Infrastruktur yang lebih elastis, tahan lama, dan aman ini dapat secara signifikan menurunkan risiko kecelakaan sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna jalan," katanya.
(cyu/nwk)










































