Ilmuwan dan misi luar angkasa terus berusaha mengeksplorasi Bulan. Namun, memungkinkan manusia tinggal di Bulan? Apa yang terjadi pada tubuh manusia jika itu terjadi?
Sejauh ini, tinggal di Bulan masih hanya sekadar mitor. Para astronaut masih terus menguji bagaimana perjalanan ke Bulan bisa terbukti mulus.
Berbagai misi telah dilakukan dan pada 1 April 2026, NASA resmi meluncurkan misi Artemis II, perjalanan sepuluh hari yang membawa empat astronot mengorbit Bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai penerbangan berawak pertama menggunakan Orion dan SLS, Artemis II memegang peranan vital. Misi ini dirancang untuk memastikan seluruh sistem pendukung kehidupan, navigasi, perlindungan termal, dan operasi luar angkasa berfungsi dengan aman saat membawa manusia.
Risiko Jika Manusia Tinggal di Bulan
Tinggal di permukaan Bulan memberi tantangan berat bagi seluruh sistem organ manusia. Para astronaut bisa terpapar 'space exposome', yakni gabungan tekanan fisik, kimia, biologis, dan psikologis yang hanya ada di luar Bumi, termasuk gravitasi rendah, radiasi kosmik, fluktuasi suhu ekstrem, debu Bulan, isolasi, dan gangguan siklus tidur, demikian dilansir dari Science Alert.
Dampak ini bisa terjadi karena misi Bulan berada jauh di luar medan magnet pelindung Bumi. Akibatnya, mereka terpapar radiasi luar angkasa yang berisiko merusak DNA, melemahkan kekebalan tubuh, dan memengaruhi otak serta jantung dengan efek yang sulit terlihat tetapi berbahaya.
Selain radiasi, minimnya gravitasi juga mengubah aliran darah, oksigen, dan cairan dalam tubuh. Kondisi mikrogravitasi dapat mengganggu pasokan darah dan glukosa ke otak, yang seiring waktu berpotensi meningkatkan risiko disfungsi neurologis dan pembuluh darah pada astronaut.
Untuk memahami risiko ini, para ilmuwan tidak bisa hanya fokus pada satu organ. Mereka menggunakan pendekatan space integrome, yakni mempelajari bagaimana otak, jantung, pembuluh darah, otot, tulang, sistem imun, dan metabolisme saling berinteraksi sebagai satu kesatuan. Satu gangguan kecil pada suatu sistem bisa menyebar dan memengaruhi sistem lainnya.
Jadi bisa dikatakan, salah satu tantangan terbesar hidup di luar angkasa adalah perubahan fisiologis yang berkembang diam-diam. Para astronot mungkin tampak sehat, tetapi komplikasi bisa berkembang perlahan di dalam tubuh dan baru terlihat berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian.
Oleh karena itu, NASA menekankan pentingnya pemantauan fisiologis jangka panjang dan mitigasi risiko kesehatan dalam setiap misi.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(faz/faz)










































