Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (Al) telah masuk ke dalam dunia riset atau penelitian. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, "Apakah AI bisa menggeser kepercayaan ilmuwan?"
Menurut laporan lembaga Wiley, lebih dari separuh peneliti telah menggunakan AI untuk tugas-tugas pekerjaan, termasuk peninjauan jurnal akademik dan perancangan eksperimen. Misalnya, lonjakan inisiatif nasional untuk mempercepat integrasi Al ke dalam dunia sains, seperti Misi Genesis di Amerika Serikat (AS) dan Al Co-Scientist Challenge di Korea Selatan (Korsel).
Bahkan di bidang kedokteran, alat AI telah digunakan untuk membantu interpretasi hasil rontgen dan MRI hingga mendukung keputusan dokter tentang diagnosis dan pengobatan penyakit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahli saraf, Sungho Hong, dan asisten peneliti pascasarjana, Victor J. Drew, mengungkapkan kekhawatiran tentang AI yang masuk ke dunia riset bisa mengikis budaya ilmiah.
"Kekhawatiran utama kami adalah bahwa adopsi AI yang tergesa-gesa secara bertahap dapat mengikis budaya ilmiah dan hubungan antarmanusia yang mendukung penelitian yang ketat. Hal ini dimulai dengan terkikisnya keterampilan berpikir inti di kalangan peneliti, sebagai akibat dari meningkatnya ketergantungan pada AI untuk melakukan pekerjaan tersebut," kata mereka.
Kemampuan Berpikir Kritis yang Terkikis
Menurut para ilmuwan, masalah utama yang muncul ketika peneliti bergantung pada AI yakni pengikisan keterampilan berpikir inti. Ketergantungan Al juga membuat peneliti terasing dari penalaran mendalam di balik tulisan mereka.
Dalam hal ini, ilmuwan muda atau peneliti awal karier menjadi kelompok yang paling rentan. Pasalnya, mereka masih dalam tahap mengembangkan penalaran ilmiah. Kemampuan memecahkan masalah (troubleshooting) dan evaluasi kritis terhadap ide kini berisiko "di-outsourcing" ke sistem AI.
Tanggapan Al yang lancar, percaya diri, dan instan sering kali disalahartikan sebagai informasi otoritatif. Begitu peneliti menganggap output Al sebagai sesuatu yang pasti benar, tanggung jawab penilaian mulai bergeser dari manusia ke mesin.
Jika AI terus diandalkan di dunia riset, maka peneliti dikhawatirkan menjadi kurang percaya diri untuk bekerja tanpa bantuan. Kondisi laboratorium modern yang penuh persaingan ketat dan isolasi semakin memperkuat ketergantungan ini.
Saat AI Lebih 'Pengertian' dibanding Rekan Peneliti
Mengapa ilmuwan mulai lebih nyaman dengan Al ketimbang rekan kerja? Alasannya sederhana: Al selalu tersedia, tidak menghakimi, tidak kompetitif, dan acuh tak acuh terhadap politik lembaga atau kantor.
Sebaliknya, hubungan ilmiah antarmanusia jauh lebih rumit. Ada nuansa kritik, keterbatasan waktu, hierarki, dan terkadang motif tersembunyi. Bagi peneliti muda, interaksi ini bisa terasa berisiko secara emosional.
Umpan balik kritis dari manusia sering kali terasa seperti serangan, sedangkan respons Al terasa mendukung. Akibatnya, peneliti lebih suka menguji ide atau mencari validasi lewat Al daripada berdebat dengan rekan sejawat atau atasan mereka.
Jika Al terus menggantikan proses di dunia penelitian, fondasi kemajuan sains terancam runtuh. Para ahli menyarankan agar ilmuwan muda dididik tentang risiko ketergantungan Al.
Selain itu, diperlukan tolok ukur untuk menguji kemampuan model Al dalam menetapkan batasan dengan pengguna guna mencegah interaksi yang tidak sehat.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di BeritaKlik.
(faz/faz)










































