Fenomena Heat Dome Kepung Eropa-AS, Indonesia Wajib Waspada?

ADVERTISEMENT

Fenomena Heat Dome Kepung Eropa-AS, Indonesia Wajib Waspada?

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 30 Jun 2026 19:30 WIB
Studi: Gelombang Panas Eropa Terjadi Akibat Perubahan Iklim
Heat Dome Kepung Eropa. (Foto: DW News)
Jakarta -

Musim panas Eropa kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Wilayah yang dikenal sejuk itu kini berhadapan dengan musim panas dengan suhu tinggi dan sangat lembap, yang dikenal dengan heat dome.

Heat dome atau kubah panas dapat membuat suhu yang sudah tinggi menjadi lebih ekstrem dan berkepanjangan. Tingkat keparahan heat dome juga semakin meningkat seiring dengan pemanasan planet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Heat Dome?

Menurut perwakilan Badan Cuaca Nasional AS, Alex Lamer, dalam laman NPR, heat dome adalah area besar bertekanan tinggi dan udara hangat yang 'berdiam' di atas suatu wilayah.

Heat dome dihasilkan dari aliran udara hangat ke arah utara. Sistem tersebut menyebabkan udara turun, tekanan meningkat, dan suhu naik.

ADVERTISEMENT

ZacharyLabe, seorang ilmuwan iklim di Climate Central, dalam AP News merangkum heat dome sebagai penyebab gelombang panas atau heat wave.

Benua Eropa-AS Terpanggang

Amerika Serikat mencatat bulan terpanas yang tidak normal dalam 132 tahun pencatatan pada bulan Maret 2026. Panas ekstrem sejak itu juga menjadi perhatian utama untuk Piala Dunia di AS, Kanada, dan Meksiko.

Panas ekstrem ini mulai dirasakan wilayah Eropa pada bulan Juni 2026. Setidaknya beberapa negara mencatat suhu mencapai 40 derajat Celcius.

Apakah Heat Dome akan Sampai Indonesia?

Heat dome yang merupakan penyebab gelombang panas tidak sampai ke Indonesia. Hal ini lantaran fenomena gelombang panas umumnya terjadi di lintang menengah-tinggi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam laman resminya menjelaskan jika Indonesia berada di wilayah ekuator dengan variabilitas cuaca yang cepat dan dinamika atmosfer yang berbeda. Namun, Indonesia biasanya akan merasakan peningkatan suhu harian akibat cuaca cerah dan rendahnya tutupan awan pada siang hari.

Kendati demikian, masyarakat Indonesia harus tetap waspada akan anomali iklim ekstrem yang membuat suhu sangat tinggi. Kelembapan bertindak sebagai 'pengali' dari tingkat bahaya suhu udara, artinya indeks panas bisa lebih menyengat.

Apabila cuaca menjadi terlalu panas dan lembap, risiko kelelahan panas dan heatstroke akan meningkat drastis meski tidak mencapai 40 derajat Celcius seperti di Eropa.




(nir/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads