Bukan sebuah rahasia bila sengketa wilayah terutama di kawasan perbatasan antar dua negara kerap terjadi. Contohnya saling klaim Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan antara Indonesia dengan Malaysia beberapa waktu lalu. Namun, ternyata ada satu wilayah di dunia yang justru tidak diklaim negara manapun.
Wilayah tersebut dikenal sebagai Bir Tawil, sebuah kawasan gurun pasir yang berada di antara Mesir dan Sudan. Bentuk wilayah itu seperti segi empat kecil yang tidak beraturan.
Jurnalis Jonn Elledge, sempat mengunjungi wilayah tersebut. Ia mengabadikan kunjungan itu dalam bukunya A History of the World in 47 Borders, dan menyatakan bila Bir Tawil adalah tempat kosong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejauh ini, Bir Tawil adalah tempat yang kosong," tuturnya dikutip dari IFL Science.
Alasan Bir Tawil Tidak Diklaim Negara Manapun
Lokasinya Sulit Dijangkau
Bila melihat alasan secara geografis, Bil Tawil merupakan lokasi yang sulit diakses. Jauh dari pusat transportasi maupun jalan raya.
Jika pada akhirnya, detikers sampai di Bil Tawil, kamu akan tetap merasa kesulitan. Bagaimana tidak, wilayah itu bergunung-gunung, berbatu, panas, dan tidak ada jalan atau penunjuk arah.
Hal ini bisa terjadi karena Bil Tawil tidak memiliki pemerintahan. Dengan begitu, wilayah tersebut tidak memiliki hukum, toko, hotel, sinyal telepon, bahkan penduduk sama sekali.
Banyak yang Klaim Tapi Tidak Diakui PBB
Walaupun tidak ada pemerintahan, Elledge menyebut di sana banyak sekali bendera. Bendera-bendera ini berasal dari banyak orang yang mengklaim wilayah Bir Tawil tapi tidak disetujui dan diakui oleh PBB.
"Bir Tawil bukanlah tanah tak bertuan. Justru, wilayah ini sudah banyak sekali diklaim," ungkap Elledge.
Setidaknya ada 9 orang yang telah mengklaim kepemilikan Bir Tawil selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah sekalipun datang ke wilayah yang mereka sebut kuasai. Salah satunya, Jeremiah Heaton, seorang petani dari Virginia.
Pada 2014, Heaton memang mengunjungi Bir Tawil dan mendeklarasikan sebagai Kerajaan Sudang Utara dengan raja yakni dirinya. Motif klaim Heaton bisa dibilang cukup lucu.
Ia ingin mewujudkan impian putrinya yang masih muda untuk "menjadi seorang putri sejati". Namun, klaim itu justru membuat marah sebuah suku yang sudah tinggal di sana selama berabad-abad, yakni suku Ababda.
Suku Ababda menilai apa yang dilakukan Heaton adalah bentuk penghinaan. Untuk itu, ketika ada sosok lain yang berkunjung ke Bir Tawil, mereka akan waspada.
Peneliti dari Pusat Studi Austronesia Universitas Lancasire, Dean Karalekas menggambarkan bendera-benda yang ada di Bir Tawil memiliki ambisi neo-imperialistik yang rendah. Beberapa bendera ditancapkan atas nama Sealand atau bergambar alat kelamin pria raksasa.
"Tak satu pun (para pengklaim daring) pernah benar-benar menginjakan kaki di Bir Tawil, sehingga klaim kedaulatan mereka menjadi tidak berharga," bebernya.
Pertumpahan Darah dan Kekacauan Administrasi
Alasan selanjutnya mengapa wilayah ini tidak diklaim negara mana pun berkaitan dengan sejarahnya. Wilayah itu disebut sebagai tempat pertumpahan darah dan ada kekacauan administrasi.
Elledge menjelaskan selama berabad-abad Bir Tawil telah menjadi pos terpencil berbagai kekaisaran, baik Mesir, Nubia, Ottoman, dan terakhir Inggris. Pada 1899, Inggris menjalin koloni rahasia dengan Mesir.
Keduanya melakukan pertempuran di Perang Mahdist melawan Sudan. Pertempuran itu berlangsung selama dua dekade yang berujung pada kekalahan Sudan.
Pasca kalah, Sudan berada di bawah kendali Inggris-Mesir dan Inggris menetapkan perbatasan antara Sudan dan Mesir. World Atlas menyatakan penentuan perbatasan ini hadir di Perjanjian Kondominium Anglo-Mesir.
Meski sudah memiliki perjanjian, Inggris menarik batas administratif pada 1902 yang berujung keadaan berbalik. Inggris berharap batas baru ini akan menentukan secara akurat luas lahan berdasarkan penggunaannya oleh penduduk setempat.
Batas baru ini menempatkan Bir Tawil sebagai bagian Mesir. Oleh karena itulah, suku Ababda dari Mesir menggunakan lahan tersebut sebagai lahan penggembalaan hewan ternak mereka.
Di seberang Bir Tawil, ada sebidang tanah lain yang disebut Segitiga Hala'ib. Wilayah itu berada di bawah kendali gubernur Inggris di Sudan.
Pada saat kemerdekaan, Sudan mengklaim kepemilikan Segitiga Hala'ib. Namun, Mesir membantah klaim tersebut dengan menyatakan batas administratif tahun 1902 bersifat sementara dan keadaan terbalik.
Dengan demikian, Segitiga Hala'ib yang dikenal sebagai wilayah penuh sumber daya menjadi milik Mesir, dan Bir Tawil menjadi milik Sudan.
Hingga saat ini, Mesir dan Sudan belum pernah menyelesaikan sengketa perbatasan mereka. Kedua negara tidak ingin mengklaim kepemilikan Bir Tawil.
Satu-satunya cara agar kedua negara dapat mengklaim Bir Tawil adalah dengan menyerahkan Hala'ib kepada lawan mereka. Hal ini bukan jawaban yang baik bagi keduanya.
"Keduanya menginginkan Hala'ib, dan karena itu keduanya harus melepaskan Bir Tawil, sehingga menyisakan sepetak kecil gurun sebagai satu-satunya tempat di Bumi di luar Antartika yang tidak diklaim oleh negara mana pun," tandas IFL Science.
(det/pal)











































