Gajah Terpaksa Berkonflik dengan Manusia, Dosen UGM: Habitat Alaminya Berkurang

ADVERTISEMENT

Gajah Terpaksa Berkonflik dengan Manusia, Dosen UGM: Habitat Alaminya Berkurang

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 05 Jul 2026 13:00 WIB
Gajah Terpaksa Berkonflik dengan Manusia, Dosen UGM: Habitat Alaminya Berkurang
Ilustrasi. Foto: Dok. TN Way Kambas
Jakarta -

Gubuk petani dikepung kawanan gajah yang sedang melintas di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Kabupaten Lampung Barat, Lampung, beberapa waktu lalu. Dua petani yang selamat mengalami trauma dan satu petani, Jumadi (54) tewas usai masuk jurang saat menyelamatkan diri.

"Dua orang, yakni Widodo dan Sigit, berhasil ditemukan dalam keadaan selamat meski mengalami trauma. Sementara Jumadi tidak berada di lokasi," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Lampung Barat, Iptu Rudy Prawira, Jumat (26/6/2026), dilansir detikSumbagsel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rudy mengatakan, tiga orang di rumah singgah kebun Widodo tersebut semula dilaporkan tidak bisa keluar karena terkepung kawanan gajah di kawasan perbatasan TNBBS pada Rabu (24/6) sekitar pukul 23.00 WIB.

Warga bersama relawan Satgas lalu menuju lokasi dan mendapati gubuk petani tersebut rusak. Sementara Widodo dan Sigit ditemukan di gubuk, Jumadi ditemukan keesokan harinya.

ADVERTISEMENT

"Sekitar pukul 09.00 WIB, Jumadi ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di area lereng atau jurang yang berjarak sekitar 50 meter dari gubuk tempat mereka sebelumnya berlindung," kata Rudy.

"Kami mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, memahami jalur perlintasan gajah, dan menghindari aktivitas di sekitar kawasan TNBBS apabila terdapat potensi kemunculan satwa liar," sambungnya.

Faktor Penyebab Konflik Manusia dengan Gajah

Merespons peristiwa ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof Wisnu Nurcahyo, mengungkapkan sejumlah faktor penyebab peningkatan konflik antara manusia dan gajah di alam liar.

1. Krisis Ekologi

Faktor pertama yakni habitat alami gajah semakin berkurang dan terpecah-pecah karena aktivitas manusia, seperti pengalihan fungsi hutan, pembukaan perkebunan kelapa sawit, hingga deforestasi. Karena itu, serangan gajah yang dikatakan Wisnu mengindikasikan adanya krisis ekologis.

Ia menjelaskan, karena habitat alaminya makin menyusut, kawanan gajah terpaksa keluar dari sana untuk mencari sumber pakan dan air yang cukup.

Sementara itu, gajah menurutnya juga suka kelapa sawit, padi, dan pisang hasil yang ditanam warga. Sementara sumber pakan di habitat alaminya makin terbatas, hasil bumi warga dipandang gajah bisa memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan lebih mudah.

"Kawanan gajah biasanya mendekati atau menyerang area manusia terutama karena menyusutnya atau terfragmentasinya habitat alami mereka. Hal ini memaksa mereka mencari sumber pakan dan air yang ada di wilayah yang kini dihuni manusia. Perilaku ini sebenarnya merupakan suatu respons alami untuk bertahan hidup, bukan sekadar agresi," ujarnya, dikutip dari laman UGM, Minggu (5/7).

"Dengan adanya ruang gerak yang menyempit dapat meningkatkan konflik yang tinggi," sambungnya.

2. Gajah Hanya Melewati Jalur Migrasinya

Wisnu menjelaskan bahwa setiap kawanan gajah punya jalur migrasi tradisional. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, gajah akan berusaha melintasi jalur migrasi tersebut meskipun sudah terhalang permukiman, bangunan lain, atau pembangunan jalan. Tindakan ini menurut Wisnu merupakan perilaku alami gajah.

"Gajah sudah memiliki rute jelajah sendiri yang turun-temurun dikenalkan oleh kawanan sebelumnya. Jika jalur tradisional mereka terblokir oleh jalan atau bangunan, maka mereka akan menerobos wilayah tersebut karena insting alaminya," jelasnya.

Dengan perilaku tersebut, warga dinilai perlu menghindari risiko mendirikan pondok, beraktivitas, terlebih bermalam dalam kawasan hutan. Sebab saat kawanan gajah melintas di jalur jelajah alaminya, hewan ini bisa merobohkan bangunan yang mereka lewati sehingga dapat membahayakan manusia di dalamnya.

"Ketika kawanan gajah melintas untuk mencari makan atau melewati jalur alaminya, tempat masyarakat menginap dapat menjadi sasaran atau dirobohkan oleh kawanan gajah, yang berpotensi menyebabkan serangan fatal terhadap manusia," jelas Wisnu.

3. Pertahanan Diri

Wisnu menggarisbawahi bahwa perilaku agresif gajah lazimnya terjadi dengan sebab. Contohnya, tindakan tersebut muncul sebagai pertahanan diri (defense) saat mereka dan anak-anaknya terancam.

Jika gajah mulai agresif, Wisnu mengingatkan, penting untuk tidak melawannya atau mengusirnya dengan kekerasan, suara bising, atau melemparkan benda. Ia menjelaskan, cara-cara tidak tepat ini justru berisiko membuat gajah panik sehingga dapat menyerang manusia.

Wisnu menuturkan, konflik dengan lingkungan dan manusia sendiri juga berisiko membuat gajah cedera, stres kronis, mengalami penurunan kekebalan tubuh gajah, dan mengalami penyusutan tingkat reproduksi.

Aktivitas Manusia di Hutan Konservasi

Wisnu menekankan bahwa habitat alami gajah harus dikonservasi. Cara ini juga penting untuk memastikan manusia tidak berkonflik dengan gajah maupun satwa liar lainnya, seperti macan yang masuk rumah.

Untuk itu, ia mengatakan aturan pelarangan membuka lahan, berkebun, maupun membangun pondok di zona inti dan kawasan hutan konservasi harus ditegakkan.

Cara Mencegah Konflik Manusia dengan Gajah

Berikut sejumlah langkah yang ia sarankan untuk mencegah konflik lebih lanjut antara manusia dengan gajah:

  1. Restorasi habitat dengan pengayaan pakan di dalam kawasan hutan sehingga gajah tidak terpaksa mencari makanan di perkebunan warga
  2. Penguatan sistem pemantauan pergerakan gajah sehingga bisa memberikan peringatan kepada warga sebelum konflik terjadi, misalnya dengan memanfaatkan pemanfaatan teknologi digital
    • Sistem peringatan dini berbasis IoT
    • Jaringan Long Range Wide Area Network (LoRaWAN)
    • Kamera jebak pintar terintegrasi kecerdasan buatan (AI)
    • Deteksi bioakustik
  3. Pemerintah mengintegrasikan koridor jelajah gajah ke dalam perencanaan tata ruang agar pembangunan tidak memutus habitat satwa liar
  4. Pengelola kawasan konservasi memperkuat restorasi habitat, patroli, serta pengoperasian unit respons cepat di wilayah rawan konflik
  5. Warga menanam komoditas yang kurang disukai gajah di area perbatasan hutan
  6. Warga menjaga sistem peringatan dini bersama-sama
  7. Warga mengembangkan mata pencaharian alternatif, termasuk ekowisata pengamatan gajah

Langkah-langkah tersebut, ia harap, memungkinkan konservasi berjalan dan mendukung keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat gajah.

Sementara itu, jika terlanjur menghadapi kawanan gajah liar, ia mengingatkan untuk:

  • Menjaga jarak minimal 50 meter
  • Berlindung di balik pohon besar
  • Bergerak melawan arah angin agar aroma badan tidak terdeteksi
  • Jangan panik dan jangan melakukan hal yang memprovokasi respons predator dari gajah.

"Namun demikian, hal-hal yang terpenting adalah tetap tenang dan tidak panik karena gajah memiliki pendengaran dan penciuman yang tajam, kepanikan atau teriakan justru dapat memicu respons defensif mereka," tutur Wisnu.




(twu/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads