Ramai Nakes Hina Pasien BPJS, Kenapa Banyak Orang Berkomentar Jahat di Medsos?

ADVERTISEMENT

Ramai Nakes Hina Pasien BPJS, Kenapa Banyak Orang Berkomentar Jahat di Medsos?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Minggu, 09 Agu 2026 08:00 WIB
cyber bullying concept. people using notebook computer laptop for social media interactions with notification icons of hate speech and mean comment in social network
Foto: iStockphoto/asiandelight/Ilustrasi berkomentar jahat di media sosial.
Jakarta -

Baru-baru ini, ramai di media sosial unggahan tentang dokter dan tenaga kesehatan (nakes) yang menuliskan komentar bernada menghina terhadap pasien BPJS. Unggahan ini semakin ramai usai beberapa hari kemudian, diketahui pasien tersebut meninggal dunia.

Kasus ini bermula saat pasien bernama Yurizal menuliskan curhatannya di media sosial karena belum mendapatkan ruangan di sebuah rumah sakit setelah 8 jam menunggu. Alih-alih mendapat edukasi, unggahan tersebut justru dihujani komentar jahat oleh dokter dan nakes. Bahkan ada yang menyebut kalau ingin mendapatkan ruangan, disuruh pindah ke ruang jenazah yang kosong.

Menurut keterangan yang dirangkum detikHealth, sejumlah dokter dan nakes yang menuliskan komentar jahat di media sosial telah ditelusuri. Mereka mendapatkan sanksi dari masing-masing instansi tempat mereka bekerja, mulai dari penghentian praktik hingga proses pemeriksaan etik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena ini menuai pertanyaan, "Kenapa orang mudah berkomentar jahat di media sosial?"

Lemahnya Memahami Konteks dan Interaksi Sosial

Profesor Madya Psikologi Forensik di Universitas Gloucestershire, Inggris, Dr Amy Grubb, mengatakan bahwa alasan orang membuat komentar jahat di internet cukup kompleks. Namun, dalam sudut pandang psikologis, orang berani meluapkan komentar di media sosial karena isyarat sosial dan interaksi tatap muka yang lemah.

ADVERTISEMENT

Jika seseorang memiliki isyarat sosial dan interaksi tatap muka yang lemah, ia cenderung melakukan serangan pribadi, penghinaan, ejekan, kata-kata kasar, atau komentar provokatif.

Singkatnya, karena mereka memiliki kelemahan, mereka tidak bisa merasakan perasaan orang atas perilaku jahat mereka. Terlebih, media sosial punya sifat anonim, sehingga orang bisa berkomentar tanpa ketahuan profilnya.

"Orang yang memposting komentar tidak melihat dampak emosional pada penerima yang dituju dan oleh karena itu tidak menerima umpan balik secara langsung mengenai bagaimana pesan tersebut dapat memengaruhi perasaan penerima, seperti ekspresi wajah atau bahasa tubuh, sehingga tidak ada konsekuensi negatif atas perilaku tersebut," jelas Dr Grubb.

Menurut Dr Grubb, penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering berkomentar jahat di media sosial cenderung memiliki sifat agresif bawaan dan empati yang rendah.

Kecenderungan Merendahkan Martabat Orang Lain

Mengutip Verywell Mind, seseorang bisa berkomentar jahat di media sosial karena cenderung merendahkan martabat orang lain. Mereka tidak memandang bahwa seseorang di balik sebuah akun adalah manusia, tapi mereka hanya menganggap bahwa mereka sedang berkomentar di sebuah platform yang bebas.

Akibatnya, orang yang berkomentar jahat menjadi tidak punya kendali untuk berhati-hati. Kecenderungan ini menyebabkan seseorang menjadi agresif di media sosial.

Di sisi lain, mentang-mentang tidak berhadapan langsung, setiap orang di media sosial menjadi tidak peduli terhadap bagaimana respons orang lain atas komentar yang ditulis.

Cara Sehat Menghadapi Komentar Jahat di Media Sosial

- Pilih platform dengan bijak

Jika di media sosial tertentu, kamu cenderung lebih banyak menemukan komentar jahat, maka hindari. Karena kita tidak bisa mengontrol orang lain, kita sendiri yang harus memilih media sosial mana yang cukup aman untuk kita.

- Skip komentar negatif

Jika ada komentar jahat di media sosialmu atau membacanya di unggahan konten lain, maka sebisa mungkin lewati saja. Kebiasaan tidak membaca komentar jahat akan melatih kontrol diri kita di media sosial.

- Batasi waktu penggunaan layar

Cara yang lebih ampuh untuk menghindari komentar jahat di media sosial adalah dengan mengurangi bermain media sosial. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa mengurangi penggunaan layar (HP/gadget) bisa lebih menyehatkan mental.

Kita jadi lebih bisa fokus pada kehidupan sendiri mulai dari membiasakan bangun pagi, berolahraga, hingga menghabiskan waktu dengan orang-orang tersayang.



(faz/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads