Muhammad Badar Agung menjadi salah satu nama yang dipanggil sebagai lulusan terbaik Angkatan VI pada pelepasan siswa SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo. Ia berhasil menorehkan prestasi dengan lolos ke kampus luar negeri.
Badar, sapaannya, merasakan momen yang mengharukan. Di satu sisi, ia akan berpisah dengan teman-teman seperjuangannya dan di sisi lain, ia harus melanjutkan impiannya.
"Rasanya campur aduk sih. Yang pasti seneng udah bisa lulus, tapi di lain sisi ya sedih juga bakalan pisah sama temen-temen, tapi mau gimana lagi ini harus saya ambil buat bisa maju ke depannya," ucapnya usai ditemui di SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjuangan Ibu di Balik Mimpinya
Baginya, untuk sampai di titik ini, ada banyak perjuangan. Salah satunya adalah perjuangan ibunya yang harus banting tulang usai bapaknya mengalami sakit.
"Jadi bapak saya tuh dulu kerjanya penjual tasbih di Jakarta, tuh di depan Pasar Jatinegara. Tapi semenjak Corona, bapak saya sakit stroke, jadi waktu itu vakum. Abis bapak saya itu vakum, habis itu ibu yang ganti kerja, jualan jajan. Alhamdulillah (lumayan)," ungkapnya.
Badar melihat bagaimana ibunya bekerja, menitipkan pangan lemper dan risol untuk dijual. Bahkan saking kerasnya bekerja, ia sering merasa sedih karena ibunya kurang tidur.
"Sebenarnya agak sedih sih, karena saya tahu sendiri ibu saya tuh hampir enggak pernah tidurnya cukup. Biasanya tuh dari jam 12.00 malam udah siap-siap bikin lemper," terangnya.
"Tapi Alhamdulillahnya, bisnis ibu saya mulai berkembang. Jadi dulu mungkin nitipnya cuma 10, 20, sekarang udah dapat orderan dari orang-orang lain bisa sampai 100, 200 kayak gitu," imbuh pria asli Kebumen tersebut.
Diterima di Kampus Belanda, Sedang Menunggu Pengumuman di Kampus Lain
Meski melewati hal sulit, ia kini berhasil menapakkan satu kaki untuk mewujudkan mimpinya. Ia berhasil diterima di Wageningen University di Belanda.
"Untuk sementara saya sudah diterima di Wageningen University di Belanda. Jurusannya ada tiga. Yang pertama tuh Data Science, yang kedua tuh Food Technology atau Teknologi Pangan, dan satunya tuh Teknologi Lingkungan," katanya.
Ia juga masih menunggu pengumuman dari kampus lain. Mulai dari kampus di Australia hingga kampus di Indonesia.
"Sementara ini saya lagi nunggu di Monash University, masih apply, terus sama ini mau apply di UNSW di Australia juga.Kalau yang di Monash itu, saya ngambilnya Applied Data Science atau Data Science Terapan. Nah, terus kalau di UNSW saya mau ngambil Engineering," tuturnya.
"Nasional tetep ada, di SNBT saya daftarnya di ITS Sistem Informasi, sama di UB Sistem Informasi juga," lanjut Badar.
Usai lulus, Badar ingin menyampaikan maaf sekaligus terima kasih kepada ibunya yang telah berjuang. Ia percaya ke depan perjuangannya akan berbuah.
"Untuk ibu saya, saya mungkin lebih banyak minta maaf daripada terima kasih, karena pasti saya sering ngerepotin ibu. Tapi tunggu ya, Bu, bentar lagi aku sukses," ujarnya.
Ia juga berpesan kepada teman seperjuangannya untuk terus berusaha meski berkali-kali gagal.
"Buat temen-temen sih, pesannya semangat aja, jangan pernah berhenti (berusaha). Gagal enggak apa-apa. Gagal berkali-kali, coba lagi. Gagal lagi, coba lagi. Karena gagal, sebenarnya itu ketika kita berhenti untuk bangkit dari kegagalan. Seperti itu," pungkasnya.
(faz/nwk)










































