Cerita Fira dari Kalsel Sekolah di Iowa yang Tenang, Terkesan Nilai Tugasnya Real Time

ADVERTISEMENT

Cerita Fira dari Kalsel Sekolah di Iowa yang Tenang, Terkesan Nilai Tugasnya Real Time

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Senin, 08 Jun 2026 20:29 WIB
Alfira, siswi MAN Insan Cendekia Tanah Laut, Kalimantan Selatan peserta pertukaran pelajar ke AS
Foto: Abdur Rahman Ramadhan/BeritaKlik
Jakarta -

Alfira, siswi MAN Insan Cendekia Tanah Laut, Kalimantan Selatan baru saja menjalani sekolah 10 bulan di Iowa, Amerika Serikat yang tenang. Meski demikian, dia terkesan nilai-nilai tugasnya di sana sat-set, realtime dan nggak pakai lama!

Fira mengaku sebelumnya tidak terlalu mengenal Iowa. Namun setelah tinggal selama hampir satu tahun, ia justru menyukai suasana kota kecil yang tenang dan jauh dari keramaian.

"Nah, sebenernya kalau misalnya saya nggak dapet placement di Iowa, saya nggak tahu Iowa itu di mana," ujar Fira di acara penyambutan peserta Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) 2025-2026 di Hotel Gren Alia Jakarta, Jl Prajurit KKO Usman-Harun, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Program YES sendiri merupakan salah satu beasiswa pertukaran pelajar unggulan yang didanai penuh oleh Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri AS. Skema ini dirancang khusus bagi generasi muda di tingkat sekolah menengah agar dapat merasakan pengalaman hidup mendalam dan memahami dinamika kultural di luar negeri secara langsung guna membangun perspektif global sejak dini.

ADVERTISEMENT

Menurut Fira, lingkungan tempat tinggalnya di Iowa memiliki karakter yang mirip dengan daerah asalnya sehingga membuat proses adaptasi terasa lebih mudah.

"Jadi kayak, bener-bener sama kayak kota saya asal. Saya kan di Banjarmasin, bukan kayak kota besar. Jadi saya bener-bener suka sama kotanya," katanya.

Terkesan Nilai Tugasnya Real Time

Dari madrasah dengan aturan ketat, bagaimana Fira beradaptasi dengan kehidupan sekolah di Iowa?

"Kalau misalnya, bener-bener beda itu mungkin dari sekolahnya sih. Kan saya asal madrasah, jadi setelah saya pergi ke Amerika, wah tau kan Amerika bener-bener freedom. Kayak, sekolah aja kayak bisa pakai pajama, bisa pakai sebebas itu. Jadi kayak, lebih ke freedom-nya aja sih," tutur Fira.

Fira juga mengalami moving class alias murid yang bergerak ke ruang kelas tiap mata pelajaran. "Secara pendidikan sendiri, moving class pastinya kan di Amerika tuh. Kita tuh nggak, untuk di Amerika sendiri, kita nggak dipaksa untuk kayak, ada 12 mapel (mata pelajaran) kita harus semuanya bisa. Kalau di Amerika tuh kita bisa milih, milih apa gitu," jelas Fira yang mengambil mapel sejarah AS, matematika dan bahasa Inggris.

Selain itu, Fira mengambil mapel jurnalistik. Dia belajar menulis berita sekolah yang dimuat di website sekolahnya. Dia juga mengambil mapel kuliner, semacam tata boga hingga yoga.

Kemudian yang membuatnya makin terkesan, setiap tugas yang dikumpulkan, guru selalu cepat menilai dan nilainya bisa dilihat real time secara online, nggak pakai lama.

"Nah, terus tuh di Amerika tuh saya suka aja, mereka tuh kayak ada website, website yang transparansi. Jadi setiap kita udah nge-submit tugas, langsung ada hasil nilainya itu. Jadi kayak kalau misalkan di Indonesia kan secara besar kita udah di akhir semester baru diakumulasikan nilainya berapa. Kalau di US nggak, saya sukanya, oh berarti saya kurangnya di sini, di sini harus saya tambahin gitu loh. Itu sih dari sistem penilaiannya dari sekolah," celoteh Fira dengan antusias.

Senang Lingkungannya Suka Belajar

Meski dalam beberapa aspek, Fira menemukan freedom atau kebebasan, namun ternyata kebebasan itu cukup bertanggung jawab. Siswa di AS tidak sebodo amat itu untuk belajar.

"Nah expectnya kalau dia ke Amerika tuh kayak, anak-anak Amerika ini paling kayak bodo amat masalah pelajaran. Ternyata enggak, saya berteman sama kayak ketua OSIS, dia baru aja kemarin dapet (tawaran kuliah) di Columbia University. Jadi kayak, wah ternyata saya di sini masih kayak deket sama orang-orang yang suka belajar gitu loh," tuturnya.

Tantangan Makanan Halal dan Sahur Sendirian

Selama 10 bulan, Fira beradaptasi selama 3 bulan. Rasa ingin tahu dan senang yang tinggi dan penasaran akan hal-hal baru, plus lingkungan sekolah yang terbuka dan sangat baik menerimanya, tantangan yang ditemui Fira bak kerikil.

Salah satunya adalah menemukan makanan halal, juga melewati sahur Ramadan sendirian.

"Kayak Ramadan tuh kayak sahur, itu susah sih. Kayak sendiri, makan sendiri, biasanya kan ramai. Jadi kayak Ramadan, terus kayak nyari halal food," ucap Fira.

Namun soal makanan terobati karena ibu angkat Fira yang asli Taiwan selalu memasakkan nasi dan masakan-masakan China lainnya. Tentu, lebih familier di lidah Fira.

"Yang saya kangenin itu masa kan host mom saya. Karena host mom saya itu kan dari China, dari Taiwan. Jadi kayak, masih, nah, saya sukanya itu saya nggak pernah homesick pasal makanan. Karena mama saya itu masih masakin tentang nasi. Kayak, Chinese food kan sama Indonesia masih similar kan. Jadi kayak, itu sih makanannya," tutup Fira yang berharap bisa berkuliah di luar negeri selulusnya dari MAN ini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "⁠Ramen YES Resmi Diluncurkan, Pengalaman Ramen Jepang Kini Lebih Dekat"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads