Pakar Ingatkan Indonesia Berpeluang Alami Peningkatan Suhu Ekstrem, Seperti Eropa?

ADVERTISEMENT

Pakar Ingatkan Indonesia Berpeluang Alami Peningkatan Suhu Ekstrem, Seperti Eropa?

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 02 Jul 2026 20:15 WIB
Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Sejumlah Negara Siaga
Ilustrasi gelombang panas ekstrem. Pakar IPB University beberkan potensi Indonesia alami suhu panas ekstrem. Foto: DW (News)
Jakarta -

Eropa tengah terbakar, menjadi narasi yang paling sering terdengar dalam beberapa waktu belakang. Sejumlah negara di Eropa saat ini memang tengah mengalami gelombang panas ekstrem.

Beberapa negara bahkan berhasil mencatatakan suhu yang menembus rekor hingga lebih dari 40 derajat Celsius. Sebut saja Prancis mencapai 43,8°C, Spanyol 42,7°C, dan Jerman 41,7°C.

Sama-sama tengah memasuki musim panas, apakah gelombang panas di Eropa bisa terjadi juga di Indonesia? Pakar yang juga dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Sonni Setiawan mencoba menjawabnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sonni menyatakan Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan suhu ekstrem pada masa mendatang. Tapi, karakteristiknya berbeda dengan gelombang panas di Eropa.

"Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa," tuturnya dikutip dari laman resmi IPB University, Kamis (2/7/2026).

ADVERTISEMENT

Peningkatan Suhu di Indonesia

Fenomena yang terjadi di Eropa memiliki hubungan dengan sistem iklim global, melalui mekanisme telekoneksi. Mekanisme telekoneksi adalah keterkaitan antarkawasan yang dipengaruhi oleh sirkulasi atmosfer berskala besar.

"Ada kaitannya walaupun tidak secara langsung, misalnya melalui telekoneksi antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dengan sirkulasi atmosfer di wilayah ekstratropis," jelasnya.

Berbeda dengan gelombang panas di Eropa, peningkatan suhu panas di Indonesia banyak dipicu oleh perubahan penggunaan lahan. Selain itu, ada juga fenomena urban heat island yang disebut Sonni umum terjadi di kawasan perkotaan.

"Faktor yang lebih dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar," jelasnya.

Melihat faktor ini, Sonni menyarankan perlunya penguatan upaya penghijauan. Berbagai langkah yang bisa dilakukan adalah reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan, sehingga peningkatan suhu permukaan bisa dikurangi.

"Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan," tegas Sonni.

Faktor Penyebab Gelombang Panas di Eropa

Masih mengutip sumber yang sama, Sonni membeberkan beberapa faktor penyebab fenomena gelombang panas di Eropa, yakni:

1. Musim Panas Bertemu dengan Gelombang Rossby

Gelombang panas di Eropa merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dan hadirnya gelombang Rossby di atmosfer. Gelombang Rossby adalah gangguan atmosfer berskala besar yang mampu memengaruhi pola tekanan udara, angin, dan suhu di wilayah lintang menengah.

Sonni menyatakan Eropa berada di zona wilayah lintang menengah, sehingga terdampak pertemuan kedua fenomena atmosfer itu. Gelombang Rossby memiliki panjang 4-6 ribu kilometer dan terbentuk ketika angin melintasi pegunungan besar.

Ketika musim panas, matahari berada di posisi terbaiknya. Akibatnya, daratan mengalami pemanasan yang maksimum.

"Karena daratan memiliki kapasitas menyimpan panas yang lebih rendah dibandingkan lautan, suhu udara di atasnya meningkat lebih cepat. Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas," bebernya.

Saat ini, aktivitas gelombang Rossby tengah melemah. Kondisi ini bukan kabar baik, justru membuat makin parah karena pergerakan gelombang menjadi lebih lambat dan membuat massa udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah.

2. Fenomena Omega Block

Belum cukup dua faktor atmosfer yang membuat panas semakin meletup-letup, Eropa juga disinggahi fenomena Omega Block. Fenomena ini dijelaskan Sonni sebagai pola tekanan tinggi yang mampu menjebak udara panas.

Akibatnya, suhu panas ekstrem bisa berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih lama dan kondisi gelombang panas ekstrem semakin parah.

Sonni juga menjawab anggapan terkait peningkatan frekuensi gelombang panas ini merupakan bukti perubahan iklim. Ia berpendapat, hal tersebut perlu dikaji secara ilmiah dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer alami.

"Dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam analisis sebelum menyimpulkan pengaruh perubahan iklim terhadap suatu kejadian panas ekstrem," katanya.




(det/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads