Dua dari tiga mahasiswa menggunakan AI generatif (GenAI). Hampir 40 persen di antaranya menggunakan GenAI setiap bulan atau lebih sering lagi.
Sementara itu, setidaknya 9 persen mahasiswa mengaku menggunakan AI untuk menyontek. Angka ini bervariasi tergantung rumpun ilmunya: lebih banyak mahasiswa non-STEM yang menyontek pakai AI ketimbang mahasiswa STEM.
Temuan ini diperoleh peneliti dari studi yang melibatkan 95.000 lebih mahasiswa di 20 universitas riset negeri di Amerika Serikat pada 2024 dan metode estimasi penggunaan AI untuk menyontek di lintas disiplin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil survei Igor Chirikov dan rekan-rekan dari University of California (UC) Berkeley's Center for Studies in Higher Education, University of Technology Sydney, dan Cornell University ini dipublikasi di jurnal Science dengan judul "Generative AI use and misuse call for assessment reform in higher education", 21 Mei 2026.
Namun, peneliti menggarisbawahi, melarang penggunaan AI di kampus justru tidak membuat mahasiswa berhenti menyontek. Pelarangan penggunaan AI di kampus juga rupanya berisiko merugikan mereka yang berencana kerja di industri yang mensyaratkan kemahiran menggunakan AI.
Lantas, bagaimana agar mahasiswa tidak ketergantungan memakai AI di bangku kuliah?
Mengajarkan Mahasiswa tentang AI
Merespon isu ini, Professor Youmin Xi, Presiden Eksekutif Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), universitas joint venture dari perguruan tinggi China dan Inggris, mengungkapkan cara agar mahasiswa tidak ketergantungan memakai AI yakni justru dengan mengajarkannya.
Xi mengamini, AI memang menjadi alat yang dapat menggantikan manusia di masa depan. Untuk itu, isu ketergantungan pada AI menjadi perdebatan di kalangan warga global.
Kendati demikian, kampusnya berpandangan, para mahasiswa dapat mengembangkan kemampuannya untuk menggunakan AI, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
"Tapi bagaimana caranya? Pertama, ubah proses pembelajaran saat ini," ucapnya pada diskusi media dalam rangkaian 20 tahun XJTLU di DoubleTree by Hilton Kemayoran, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Xi menjelaskan, alih-alih sekadar mengajarkan ilmu, kampusnya diarahkan untuk membantu mahasiswa menggunakan AI, mulai dari memahami AI itu sendiri, langkah penggunaannya yang baik dan benar, dan memanfaatkannya untuk isu-isu nyata di sekitar.
"Di awal tahun pertama kuliah, kami mengembangkan literasi digital agar mahasiswa paham teknologi AI. Pada saat yang sama, kami mengajarkan etika AI agar mahasiswa tahu sejauh apa ia bisa menggunakan AI dengan baik dan benar," terangnya.
Ia menambahkan, di tahun kedua, kampus mengajarkan mahasiswa untuk memahami beragam konteks dan bagaimana menggunakan AI untuk konteks yang berbeda-beda. Xi mencontohkan, penggunaan AI tools untuk studi matematika berbeda dengan rekayasa (engineering) dan ilmu sosial.
Menginjak tahun ketiga, mahasiswanya kemudian akan melaksanakan studi tentang AI atau melaksanakan riset dengan bantuan AI itu sendiri.
"Jadi di XJTLU, beda tahun kuliah, beda teknologi AI-nya. Tujuannya agar mahasiswa bisa lebih memahami dengan baik tentang AI, mengembangkan kapabilitas untuk bekerja menggunakan AI, untuk menciptakan ide-ide baru," ujarnya.
Penciptaan Ide Lintas Sektor Lebih Penting
Xi menekankan, agar lulusan tidak tergerus AI, skill yang paling penting adalah kemampuan untuk berimajinasi, menciptakan, dan mengintegrasikan ilmu lintas sektor untuk membangun ide baru.
"Itu lebih penting buat masa depan. Itulah kreativitas manusia," ujarnya.
Agar mahasiswa dapat mengembangkan skill penciptaan ide tersebut, Xi berpendapat, caranya bukan dengan diajarkan lagi, tetapi dilatih.
Ia mencontohkan, di XTJLU, kampusnya bekerja sama dengan pihak industri untuk membuat tujuh sekolah (fakultas) industri. Dengan konsep membawa industri ke kampus, mahasiswa diajak untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata di industri sesuai konteks aslinya. Dalam prosesnya, para mahasiswa dibantu para pengajar, mentor eksternal, atau ahli di industri.
"Jadi proses belajar berubah dari pengajaran tradisional, mendengar, mengingat; ke belajar berbasis pengalaman. Ini bisa membantu mahasiswa mengintegrasikan ilmu-ilmu yang ia cerna dan tumbuh dan berkembang dari situ," ucapnya.
"(Dari 300-an perusahaan mitra), lebih dari setengahnya membawa masalah nyata, proyek nyata ke XTJLU. Itulah yang kami lakukan untuk menghadapi tantangan dari AI itu sendiri," kata Xi.
(twu/nwk)











































